Wednesday, April 19, 2017

Review: The Beauty Inside (2015)

Pernahkah pada suatu hari, atau suatu masa, kita merasa bahwa kita benar-benar mengenal orang yang kita cintai? Pernahkah kita merasa asing saat menatap sebuah wajah yang kita temui setiap hari? Suami. Orang tua. Saudara. Atau sahabat. Pernah? Pernahkah kita benar-benar mengetahui apa yang kita cintai dari pasangan kita?

Ini bukan kecurigaan. Bukan pula pertanyaan mengada-ada. Ini adalah pertanyaan yang sadar atau tidak sadar kita tanyakan setiap hari. Who are you? Who am I? Is it the truth? What is inside of you?

Pertanyaan-pertanyaan ini mendadak terejawantahkan secara sempurna di film The Beauty Inside. Film ini adalah adaptasi dari film sosial media berjudul sama dari sutradara film independen Drake Doremus yang dibeking oleh dua perusahaan IT raksasa, Intel dan Toshiba. Kesuksesan The Beauty Inside karya Drake di ranah sosial media inilah yang diadaptasi oleh sutradara Baek Jong-yul (Baik) menjadi film panjangnya yang pertama. Namun, The Beauty Inside versi Korea inilah yang dibeli naskahnya oleh Hollywood dan remake-nya akan dibintangi oleh khaleesi kesayangan, Emilia Clarke. Oh, merinding!



Film ini bercerita tentang seorang desainer perabotan, Kim Woo Jin, yang memiliki fenomena semacam mutan: dia mengubah diri setiap hari menjadi orang yang berbeda. Woo Jin dapat berubah menjadi siapa saja setiap kali ia bangun dari tidurnya. Laki-laki atau perempuan. Tua atau muda, bahkan bocah. Keanehan genetika ini membuat Kim Woo Jin kesepian, karena tidak bisa bersosialisasi selain dengan ibunya dan sahabatnya, Sang Baek.

Kesepian itu temannya rindu. Woo Jin merindukan seseorang lain selain Sang Baek dan ibunya. Hatinya tertambat kepada seorang pegawai marketing toko furniture bernama Yi Soo. Perempuan ini perlahan mulai mendorong Woo Jin untuk keluar dari kepompongnya dan berani membuka diri. Tapi, apakah kelainan genetika ini tidak menjadi penghalang untuk hubungan keduanya?

OK. Saya tidak akan membocorkan endingnya. Tapi, saya ingin mengapresiasi film ini setinggi mungkin sebagai film cinta yang paling sunyi. Awalnya saya merasakan hal yang sama ketika menonton film 'Her' yang dibintangi Joaquin Phoenix, tapi Beauty Inside terasa lebih mampu berinteraksi dengan emosi. Karena apalah gunanya film roman kalau tidak bisa mengaduk emosi penontonnya bukan?

Ada 80 orang memerankan tokoh Woo Jin yang terdiri dari berbagai usia dan ras. Yang unik di sini adalah wajah Woo Jin yang asli (sebelum kelainan genetika-nya menetas) tidak pernah ditunjukkan. Penonton langsung digiring pada perubahan demi perubahan serta kehidupan seorang Woo Jin yang sepi dan banal. Pemilihan profesi Woo Jin sebagai desainer furniture menurut saya sangat cerdas. Karakter Woo Jin digambarkan sebagai seorang desainer yang selalu membuat furniture sesuai dengan bentuk tubuh penggunanya. Hal ini dikarenakan Woo Jin harus beradaptasi dengan tubuh baru setiap hari dan selalu harus mencari kenyamanan (dari keanehannya) setiap hari.

Saya perlu mengapresiasi beberapa aktor yang membuat karakter Woo Jin menjadi lebih hidup, yaitu Kim Dae-myung, Park Seo-joon, Kim Sang-hoo, Chun Woo-hee, Juri Ueno, Lee Dong-wook, Kim Joo-hyuk, dan Yoo Yeon-seok. Mereka memainkan peran di titik-titik penting kehidupan Woo Jin. Saya pikir arahan Baik, sang sutradara, amat sangat baik ke aktor-aktor ini. Bahkan Lee Dong-wook dan Yoo Yeon-seok yang lebih banyak berkiprah di drama, bisa meresapi kegelisahan dan kesedihan Woo Jin yang tidak biasa di titik yang paling penting dalam film ini. Bisa dibilang, ke-80 aktor yang memerankan Woo Jin bisa mengekspresikan kegelisahan yang sama dan Baik lagi-lagi dapat mengambil angle-angle yang amat baik dari seluruhnya, hingga tidak ada yang terkesan jomplang antara aktor kawakan atau aktor figuran.

Walaupun karakter Woo Jin amat menarik, karakter utama dan penting dalam film ini adalah Yi Soo, kekasih Woo Jin. Aktris Han Hyo-joo memerankan Yi Soo yang cantik rupawan secara tidak berlebihan. Suara Hyo-joo yang 'soothing' membuat setiap dialog dalam Beauty Inside mengalir wajar dan halus, tanpa ketakutan bahwa film ini bisa berubah mendadak menjadi drama Korea pada umumnya. Peran Hyo-joo di film ini sangat penting dan berat, karena emosi Yi Soo saat berada dalam hubungan dengan Woo Jin harus menjadi roda yang membawa film ini sampai ke akhir. Di film ini, Hyo-joo semakin menancapkan cakarnya sebagai aktris kawakan yang tidak hanya mengandalkan wajah semanis madu, tapi juga kekuatan akting yang tidak sembarang.

Desah. Desah. Desah. Saya berdesah setiap kali mengakhiri menonton film ini (saya sudah tonton 3 kali btw).

Film ini berawal dari pertanyaan dan berakhir dengan pertanyaan: dengan siapakah kita jatuh cinta?

No comments:

Post a Comment