Saturday, June 4, 2016

Muhammad Ali dan Kakekku

Minggu lalu, tepat di hari Sabtu kakekku tercinta, Florentinus Maria Soewandi meninggal dunia. Saat aku diberitahu bahwa kakek sudah tiada, ada perasaan yang bercampur aduk. Tentunya aku amat sangat sedih, karena kakek adalah ayah keduaku, yang ikut merawatku saat baru dilahirkan. Walaupun beliau sifatnya keras, tapi sangat lembut kepadaku. Sampai sekarang tidak ada seorang pun yang bisa mengelus punggungku sampai aku tertidur pulas kecuali kakekku. 

Hingga Sabtu lalu, aku masih merasa kakek tidak akan ke mana-mana, karena dia selalu ada. Pola hidupnya yang sehat membuatnya dianugerahkan umur panjang: 98 tahun. Untuk ukuran manusia modern, mencapai usia lebih dari 90 tahun sungguh luar biasa. Sebelum wafat, kakek masih bersikap biasa saja. Sarapan dan makan siang di rumah ibuku (anak pertama) dan dia berencana untuk ke rumah tanteku (anak kelima) esok paginya karena mau dibuatkan nasi goreng ala tante. Tapi, saat tidur malam, kakek rupanya memutuskan untuk makan nasi goreng di surga saja. 

Kakek pergi dalam tidur. Begitu saja. Setenang itu. Tak ada sakit sama sekali. Hal terakhir yang diinginkannya malam itu hanyalah minum air putih dan tidur di pangkuan nenekku. Di sanalah dia menghembuskan nafas terakhirnya, berdua saja dengan istri tercinta yang telah dinikahinya 60 tahun lebih. Caranya pergi membuat hati saya cukup tenang. Yang penting kakek tidak sakit. Sampai petugas yang membantu memandikan jenazahnya pun bilang kalau jenazah kakek bersih sekali. "Semoga bapak khusnul khotimah..,"ujarnya. Amin. Lalu kucium kakek untuk terakhir kalinya.

Saat pemakamannya, banyak kudengar cerita-cerita tentang kakek dari orang tuaku, om dan tanteku, bahkan teman-teman di gerejanya. Beberapa agak mengejutkan sampai aku tertawa sendiri. Namun dari semua cerita itu, aku punya kenangan sendiri tentang kakekku. 

Kakekku senang olahraga tinju. Dia membuat peralatan gym sendiri di rumah: berbagai ukuran barbel dari beton dan besi rel kereta, membuat sangsak tinju sendiri dari ban dalam mobil, dll. Dan itu semua dibuatnya setelah masa pensiun tahun 1980. 

Setiap pagi dia bangun jam 4 subuh, membuka semua pintu dan jendela, membangunkan anak-anaknya dan aku (cucu pertama). Lalu dia berlari-lari kecil di halaman rumah, push up, pull up, skipping, boxing. 

Kami? Tidur lagi di meja makan. 

Setiap ada pertandingan tinju, kakek akan bersiap siaga di depan televisi. Sementara kami duduk berjejer di belakangnya. Ya, di belakang punggungnya. Kami memang tidak berencana ikut menonton televisi. 

Saat pertandingan mulai, di situlah pertunjukkan sebenarnya juga untuk kami. Kakek akan berteriak-teriak menyemangati jagoannya sambil ikut 'bertinju di udara'. Kami akan tergelak di belakang punggungnya sambil mengikuti gaya bertinju di udara. Jika jagoannya kalah, dia akan meremas2 bangku sampai kadang-kadang vernisnya terkelupas. Kalau jagoannya berhasil melayangkan jeb KO, kakek akan melompat dari duduknya dan berteriak: "MODYAAAARRRR KOWEEEE!!"

Laugh. 
Out. 
Loud.

Petinju kesayangan kakek adalah Mohammad Ali. Baginya, Ali tidak hanya bertinju tapi juga menghibur penonton pertandingannya. Tidak ada petinju setelahnya yang bisa menghadirkan seni bertinju seindah Ali. Apalagi Tyson. Wah, dia benar-benar tidak menikmati pertandingan Tyson yang cuma 30 detik itu. "Seperti nonton badak ngamuk!" katanya

Saat kubaca hari ini Mohammad Ali pun wafat, tanpa sadar Aku tersenyum... Kubayangkan wajah kakekku yang sumringah bertemu dengan idolanya di pintu surga dan mereka bisa "bertinju di udara".