Saturday, August 1, 2015

prosa tentang cinta dan lainnya (1)

Sesungguhnya aku pernah bertanya - pada suatu malam yang senyap dan tak kudus - kepada diriku sendiri: dari mana datangnya cinta?

Sudah lama aku tidak mempercayai mataku yang rabun jauh. Dan aku tak punya kriteria tentang ketampanan atau kecantikan. Yang aku punya hanya kriteria tentang kenyamanan, karena aku merasa hidupku tidak nyaman jadi kenyamananlah yang kucari. Aku bisa mencari kenyamanan di mana saja: trotoar yang berdebu, gubuk yang reyot, atau hutan belantara yang gatal. dan sebaliknya aku juga bisa menemui ketidaknyamanan di mana saja: hotel bintang lima, kafe super fancy, atau di tengah sekumpulan anak hipster dalam sebuah pameran seni rupa.

Aku percaya: sesungguhnya cinta datang dari kenyamanan. Seperti ketika pertama kali aku menyadari bahwa aku mencintaimu. Pertama kali aku menyadari bahwa berdiri di dekatmu bukanlah asing. Dan ketika berpeluk denganmu adalah pulang.

Kau bukanlah seseorang yang kuidolakan. Kau bukan pujangga. Kau bukan aktor kawakan. Kau bukan cendekia penuh teori mulut menganga. Bukan. Kau adalah seseorang yang kucintai. Dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Akulah yang akan mencarimu dalam sudut-sudut labirin memori: di mana kau lahir; di mana kau tinggal; di mana kau makan; di mana luka masa kecilmu; di mana kau kehilangan keperjakaanmu.

Kau adalah seseorang yang kucintai. Dan terus terang aku lambat menyadari bahwa aku betul-betul mencintaimu.

Ketika bertemu, kau hanya seorang pemuda berambut gondrong lembab yang tak menarik. Tidak tinggi. Berkulit gelap. Beranting-anting. (Where have you been? Man-earings in Y2K? Dude, really?) Kita saling tidak peduli, bahkan di jabat tangan pertama. Aku lupa namamu. Kau lupa namaku. Kita utara dan utara. Selatan dan selatan. Tidak tarik menarik.

Hingga dalam dingin udara kota kelahiranku itu, kau mendekapku kegirangan. Tanpa nafsu. Seketika itu ada yang berdenyut di gelap hatiku. Denyut yang lembut dan bersahaja. Tapi saat itu aku begitu sedih dan kesepian, aku mengacuhkan denyut itu hingga mataku kembali menatap matamu berselang beberapa waktu kemudian.

Aku jatuh cinta. Pada seorang lelaki di belakang kamera, yang terus mengintipku dari balik lensanya. Berpura-pura di balik pertemanan. Tapi aku terlalu sedih dan kesepian. Aku mabuk dalam ketidakpercayaan diriku, oleng sendiri dalam kekecewaan dan kesalahan.

Aku jatuh cinta. Pada seorang lelaki yang memelukku erat dalam tidur. Tanpa kembang api yang meledak-ledak di hati dan kepalaku. Cinta yang hening namun waspada. Cinta yang siap untuk ditinggalkan. Mengutip Sapardi, aku mencintaimu dengan sederhana. Hampir tanpa syarat.

Aku akan mencintaimu jika kau ingin dicintai.
Aku akan menemanimu jika kau ingin ditemani.
Aku akan merindukanmu jika kau ingin dirindukan.
Aku akan tetap di sini jika kau bosan dan pergi.

Hampir seperti syair lagu cinta yang usang. Seperti kebodohan yang buta. Tapi itu kenyataanku. Aku pun sulit percaya.

Aku lebih mencintaimu saat kau membuatku tertawa dengan lelucon-lelucon ndesomu. Aku lebih mencintaimu saat kau mabuk dan meratap kepadaku untuk jangan meninggalkanmu. Aku lebih mencintaimu saat kau marah dengan pembaca puisiku yang delusif. Aku lebih mencintaimu bahkan saat kau lelah dan ingin meninggalkanku...

Dari mana datangnya cinta?

Cinta datang dari kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang terbagi dan tinggal di hati.
Dan itulah dirimu bagiku.








July 17th, 2015
Happy anniversary, Love...