Saturday, April 25, 2015

tentang GSG

Ini bukan perkara gedung. Atau ruangan. Atau pilah-pilah kayu usang reyot penuh sarang laba-laba dengan lantai seperti kaki anak kampung kudisan.

Bukan.

Ini bukan semata gedung. Atau ruangan. Ruangan ini sungguh serba guna namun sederhana. Seukuran dua lapangan badminton, mampu menampung tujuh ratus anak baru gede yang cengeng dan caper.

Di ruangan ini saya pertama kali bertemu idola saya: Srimulat (feat. Didhik Ninik Thowok). Memakai cincin akik bacan sebesar batu kali dan jam (seperti) rolex, Tessy tampil tak seperti biasanya: jadi laki-laki. Pakai jas necis warna khaki, rambut gondrong diikat tapi mengilat, dan sunglasses bertangkai emas. Ujarnya saat itu,”Saya harus tampil keren, karena ini kampus orang keren. Masa’ saya dandan kayak Didhik Ninik Thowok?!” Semuanya tertawa. Iya, tertawa dong. Pasti dia lagi ngenyek. Apa dia tidak lihat dia sedang manggung di ruangan bobrok yang nggak ada bagus-bagusnya?

Lalu apa yang membuat saya, kita begitu tersengat ketika ruangan bobrok laksana kaki kudisan itu digempur alat berat dan diratakan dengan tanah?

Karena pertama, ini perkara kenangan.

Kenangan jutaan anak muda yang sedang nakal-nakalnya, penuh letupan hormon, dan begitu naif dengan cita-citanya. Kenangan yang berbaris memakai kemeja putih dan celana putih – yang mungkin baru dibeli sehari sebelumnya – dengan dagu menempel di dada. Kenangan yang bau bir, bau anggur merah, atau bau naga yang berteriak lima sentimeter di depan muka. Kenangan yang riuh dengan tepuk tangan, seruan-seruan kotor bau selangkangan. Kenangan tentang melodi idola remaja. Tentang kemeja flanel. Tentang kepang wendy's. Tentang tenaga dalam. Tentang dunia lain. Tentang cinta pertama. Tentang cinta terakhir. Tentang kehidupan. Tentang kematian.

Tentang kita.

Mungkin saya tidak bisa begitu mengingat secara detil apa saja yang sudah saya lakukan hampir dua puluh tahun lalu selain pernah membawa sekerat teh botol tidak dingin untuk dijual ke cowok-cowok fakultas teknik sipil dan arsitek yang sedang main bola sambil menyumpahi mereka mandul atau kena sipilis kalau tidak beli; atau memutuskan untuk ikut paduan suara yang tenar itu dan berhenti tepat setelah tampil di konser perdana dan saat itu saya menyadari kalau saya tidak begitu suka menyanyi ramai-ramai (maklum, mental rockstar…); atau memberikan kejutan kecil kepada beberapa ratus orang yang sudah siap membawa bunga belasungkawa dan demo ke DPRD karena katanya saya sudah tewas di Tragedi Semanggi 98 (Cuma benjut sakit banget…); Atau…oh banyak ternyata.

Ketika 20 tahun berlalu, banyak dari kita tidak sadar akan begitu banyaknya langkah-langkah kecil yang kita jalani melewati dan di dalam ruangan serba guna itu. Ruangan yang menjadi saksi mimpi-mimpi yang kandas di semester 4 dan hentakan kaki untuk bangkit kembali atau merangkak melewati pintu gerbang kehidupan dewasa yang menyakitkan hingga hari ini.

Lalu kita tersentak ketika ruangan bobrok itu dirobohkan dan digantikan dengan 'gedung' megah berlantai-lantai buatan alumni kampus lain. Ouch. Sakitnya tuh disokin, broh (nunjuk ke kepala). Kayaknya 15 tahun lalu saya pernah dengar banyak protes (termasuk dosen-dosen) mengenai pembangunan gedung belakang yang diperkirakan akan menyerap banyak cadangan air di sekitar, belum lagi ekses konsumsi dan dampak lingkungan dari penumpukan ribuan orang di area yang secuil itu. Luar binasa. 

Terbukti kok. Kunjungan saya awal tahun ini ke kampus pun sangat tidak berkesan. Ciumbuleuit jadi sumpek dan panas. Belum lagi sampah di mana-mana. Eh, bukan karena saya pernah kerja 10 tahun di LSM lingkungan, tapi ya hanjirr atuhlah ... jorok pisan! Kayaknya sebandel-bandelnya saya dan teman-teman saya yang lebih bandel dulu itu nggak pernah membuat area parkir di kampus jadi kolam sampah plastik. 

Kok jadi ngelantur? Tidak. Ini tidak ngelantur. Ini bukti ekses yang tidak bisa dihindari dan diatasi oleh segenap anggota civitas akademika. Karena ini bukan lagi perkara ruangan. Atau perkara kenangan. Ternyata lebih dari itu. Ini perkara tingkah laku. Seribu GSG bisa dihancurkan. Seribu gedung baru bisa dibangun. Tapi bagaimana dengan perilaku civitas akademika? Apakah dengan menambahkan gedung bertingkat 20 di bekas GSG akan mengubah pola pikir? Saya kira tidak. Gedung baru hanya akan menimbulkan lebih banyak pertanyaan. Mungkin tidak hanya dari saya atau ribuan alumni, tapi juga dari warga lain yang bergantung pada daerah-daerah tangkapan air seperti Ciumbuleuit. 

Pertanyaan terbesar di kepala saya saat ini: Kenapa nggak pindah lokasi saja sih? Yang lebih besar, lebih fokus, lebih memadai untuk segala kebutuhan belajar mengajar. Suka ngiri lho sama kampus-kampus lain yang punya area luas, punya hutan, punya kebun, punya danau, punya pohon-pohon, punya tempat piknik. Mengapa harus bertahan di area yang sempit itu? Mengapa harus menyusahkan diri? Mengapa harus menyusahkan masyarakat?

Ini bukan tentang gedung. Atau ruangan. Ini tentang kita. GSG sekarang sudah menjadi puing, tapi jangan sampai akal budi ikut hancur bersamanya.



No comments:

Post a Comment