Thursday, March 5, 2015

tentang puisi

Pada suatu malam yang cukup jahanam, saya yang muda sedang kalut. Kira-kira waktu itu saya sedang putus cinta. Pacar saya meninggalkan saya tetiba dan saya butuh curhat. Saya pun membuka blog dan mencoba menulis puisi. Entah ada lalat apa di dalam kepala saya, tombol 'Delete Your Blog' terpencet oleh saya.

BLAR!

Hilanglah blognya si Randurini yang legendaris itu. HAHAHA.... Sudah puluhan puisi dan tulisan ada di situ. Bah. Sejak itu saya berusaha mengumpulkan kembali serpihan-serpihan puisi saya dengan bantuan Mbah Google. Berikut adalah beberapa puisi yang saya kira cukup layak untuk re-publish. Selebihnya? Itu hormon. Hihihi... Enjoy!


KE LAUT SAJA

sendiri, meludahi matahari
menelanjangi sepi kesekian kali

sementara bentang harap melebar
celah retak ruang dada lama lelah mendebar

seperti gemuruh langit yang lama kecewa
teriakku menghambur ke hitam semesta

bila tak jua kau lihat lebam di sudut mata
khilaf batin mencuat memburu senja

kukucurkan semua tanya ke laut saja


-pantai utara, 24 Mei 2002.

 

SEBUAH PINTU DAN SURATKU



lembar-lembar malam ada di genggaman, berisi jutaan
salam yang pernah dialamatkan bulan. aku tak ingin
menjajakan kelelahan demi sebungkus iba. aku ingin
terburai, terburai begitu saja tanpa
pertanyaan-pertanyaan tentang lembar-lembar malam yang
kukirimkan kemarin siang. ke pintuMu.
 
(24 april 2005) 

DALAM HATI TAK ADA LAGI PUISI

di hati sudah tak lagi ada puisi.
hanya lemak jenuh isi penuh.

di jantung tak lagi berdetak puisi.
reuni romansa kopong tanpa logi.

di kaki ada sejalan puisi.
aku pergi, habis hari.


(28 april 2005
)


KITA MASIH PUNYA CINTA

kita masih punya cinta
di saku celana
di selipan kaus kaki
di lipatan saputangan
di bawah sajadah
di dalam asbak
di celengan babi
di tiap getar telepon genggam
di tengah halaman novel Marquez
di antara pita kaset Joni Iskandar
di lengkingan Candil Serieus
di guyuran toilet
di daun-daun gugur
di tunas-tunas malu
di ayun-ayun batik lusuh ibu
di desis pohon kelapa
di gemeretak jemari
di setiap kunyah
di setiap langkah pulang

kita toh masih punya cinta
kecil mungil ringkih
namun bernyawa

(2003)


MERCADO

mata belum lagi lelap sungguh
selarik irama melayu di sela adzan subuh
meroda becak bawa ibu ke pasar. menjemput lapar
daftar belanja bagai larik puisi di selembar slip gaji
cerita seracik bumbu sampai ke pinggan
sekeping rupiah jadi incaran
segenggam garam jadi pikiran

menggunung sayur tumbah di pinggiran
segala pantun sahut menyahut para pedagang
jangan tawar sayurku jangan
matahari naik setinggi bensin
terik di kantong semakin kering
jangan tawar hatiku jangan
dari jahe sampai gerabah
busung lapar katanya bukan wabah
janji-janji tergulung air bah
rumah dusun masih rata dengan tanah
jangan tawar cintaku jangan
cabe boleh merah cabe boleh keriting
keringat jambal asin memang kurang penting
dimasukkan dalam pakta-pakta negara dingin
lapak-lapak yang digelar sepanjang trotoar
adalah perdagangan bebas kami
walau tak bebas pungli, jawara, hypermart dan SK Bupati

lantun irama melayu di becek tanah
ayun ayun keranjang ibu melipir pasar
pilih pilih bukan sembarang
barang bagus bukan tikus yang dibungkus
pasal karet dan dakwaan hangus
pilih-pilih bukan sembarang
jargon sakti kepulan asap wangi beras pandan
adalah setebaran senyum di meja makan



{2005, ke pasar bersama eyang puteri...}

salam sayang,
randu

1 comment:

  1. Puisi-puisinya bagus.... Salam kenal dan ijin share, Tante... _/\_

    ReplyDelete