Thursday, March 5, 2015

Belajar Merajut

Setelah setahun saya mengajar tentang merajut, saya sempat berkilas balik pada pengalaman saya. "Karir" mengajar saya dimulai dengan mengajar teman-teman di kantor saya dahulu. Pada suatu hari, beberapa teman meminta saya untuk mengajari caranya merajut. Mulanya hanya 4 orang yang 'berminat' untuk belajar. Keesokan harinya menjadi 10 orang. Keesokan harinya menjadi 15 orang. Tak sampai dua bulan kemudian, demam rajut pun menjalar ke berbagai divisi/departemen di kantor.

Lalu ketika ada event Earth Hour, saya pun dengan setengah bercanda mengatakan kepada teman-teman panitia bahwa saya dan teman-teman yang merajut akan mengadakan SAPI KEJUT - Sambil Piknik Kita Merajut - karena kebetulan lokasinya di Taman Proklamasi. Alhasil pada hari Earth Hour 2013, kami pun asyik merajut di taman Proklamasi yang rindang. Bahkan beberapa relawan Earth Hour juga ikut belajar.

Yang paling membanggakan buat saya pribadi adalah hasil teman-teman yang belajar merajut. Mulanya saya menekankan manfaat merajut bagi diri kita sendiri. Merajut itu adalah terapi yang bagus untuk melatih fokus, kesabaran, dan cita rasa. Namun, ternyata manfaat merajut itu juga bisa dilihat dari segi ekonomi. Ada yang tadinya merasa putus asa merajut, saat ini sudah membuat berbagai produk rajutan yang entah itu dijual maupun untuk hadiah. Tentu saja nilai ekonomisnya ada dan lumayan jumlahnya. Seorang teman yang akhirnya menerima pesanan paket untuk bayi (selimut, topi dan sepatu) kalau rajin bisa mendapatkan tambahan hingga 800 ribu rupiah.

Teman lain juga mengatakan bahwa saat ini dia tak perlu repot-repot lagi mencari kado untuk kelahiran bayi atau ulang tahun teman anaknya. Mulanya tidak percaya diri dengan hadiah buatan tangan sendiri, tapi ketika menerima pujian dari sang penerima hadiah, ah sumringah rasanya. Selain itu, jadi irit! Ha!

Sejak mengajar, saya pun bergerak ke komunitas-komunitas. Saya ingin melihat geliat komunitas rajut di dunia maya. Dulu waktu saya bertandang ke Facebook groups merajut, fokus saya hanya untuk mencari benang dan alat, tapi sejak setahun terakhir berubah menjadi riset dan mengembangkan jaringan.

Dari hitungan kasar dan mengabaikan user ganda, ada 10.000 orang yang tergabung dalam berbagai komunitas rajut di Facebook. Dari penyedia material sampai perajut. Ada dua tipe komunitas rajut: komunitas jual beli dan komunitas belajar. Untuk komunitas jual beli, tentu saja lebih mudah untuk berinteraksi lewat grup-grup ini. Tapi bagaimana dengan komunitas belajar? Terus terang saya tidak menemukan kenyamanan belajar via Facebook Group. Sharing atau berbagi pola atau hasil mungkin bisa, tapi belajar? No way. Dengan anggota grup yang sangat banyak, sangat sulit untuk melihat kembali thread walaupun sudah dibantu dengan notifikasi. Ribet.

Dari situ saya melihat bahwa perlu ada platform belajar yang mumpuni bagi para 'murid' rajut di berbagai daerah di Indonesia. Platform yang membuat semua orang bisa belajar dan mengajari dengan runut tanpa kesulitan mengakses informasi. Bagaimana ya caranya? OK. Biarkan saya berpikir dulu sebulan dua bulan ini, dan nanti akan saya kabari lagi. ;)

Sampai jumpa!


No comments:

Post a Comment