Tuesday, May 13, 2014

Obral Besar

Matahari belum lagi tinggi tapi pagi itu kota kecil ini tampak sibuk sekali. Dua truk tentara nampak parkir di dekat pabrik gula belakang rumah. Tak terlihat tentaranya. Mungkin sedang sarapan.

Ibu sudah rapi dengan kebaya cokelatnya. Ditentengnya tas belanja plastik besar warna oranye yang biasa ia bawa ke pasar. Cepat-cepat dia memanggil aku dan Sri, anak semata wayangnya. "Ayo cepat!"

Sri dan aku tergopoh-gopoh mengikuti perintah ibu. Sri mengepang rambutnya yang panjang sembari berjalan. Secepat apa pun kami berjalan memakai rok klok longgar yang kami jahit sendiri, tampaknya tidak bisa mendahului gegap langkah ibu dalam balutan jarik batik madura.

Ibu hanya ingin cepat sampai ke toko Koh Ah Bun yang terletak tak jauh dari rumah. Toko Koh Ah Bun menjual berbagai macam perangkat makan dan minum. Cantik-cantik sekali. Setiap kali habis panen, Ibu selalu mampir ke toko itu dan membeli seperangkat minum teh atau piring-piring. Jika panen tak begitu bagus, ibu hanya membeli satu atau dua cangkir saja. Tapi jika panen tembakau, Ibu bisa dipastikan pulang dengan satu becak tambahan penuh dengan barang.

Tapi hari ini tembakau belum lagi bisa dipanen. Ibu harus sampai pertama kali di toko Koh Ah Bun karena hari ini hari OBRAL BESAR. Koh Ah Bun mengobral seluruh perangkat keramik dan kuningannya karena besok ia dan keluarganya harus pergi dari kota ini. Apa pasalnya kami tak pernah benar-benar tahu. Koh Ah Bun sudah berpuluh tahun tinggal di sini. Semua anaknya lahir dan bersekolah bersama kami. Tapi kemarin malam bapak bilang kalau semua orang tionghoa harus pergi dari kota ini. Dari negara ini. Kemarin malam pun, seorang kuli toko Koh Ah Bun pun menghampiri rumah kami, memberitahukan kepada ibu - pelanggan setia Koh Ah Bun - bahwa besok Koh Ah Bun akan mengadakan obral besar.

Sesampai jalan raya, langkah ibu semakin cepat meninggalkan kami yang hampir berlari di belakangnya. Sesampainya di toko Koh Ah Bun, kami tercekat karena banyaknya orang yang mengantri di depan toko. Sebuah tulisan OBRAL pun terpampang di depan toko dengan cat warna merah menyala. Orang-orang keluar dari toko dengan membawa berkardus-kardus perangkat minum teh dan piring. Olala...wajah Ibu pun semakin pucat dan ia semakin bergegas menuju barisan antrian.

Namun dari jauh Cik Lili, isteri Koh Ah Bun sudah melihat ibu. "Ibu Hajiiii...! Ibu Hajiii...!" Cik Lili memanggil-manggil ibu. Raut wajah Cik Lili langsung berubah dan segera dia berlari menghampiri ibu sambil berlinang air mata. Kami melihat dua perempuan sebaya ini berpelukan erat. Cik Lili dan ibu pun menangis tersedu-sedu. Tak pernah ada di dalam imajinasinya yang paling liar bahwa dia harus meninggalkan kota ini, negara ini. Tempat ia lahir dan bernaung seumur hidupnya.

"Yang tabah ya Cik... Rejeki tidak kemana, yang penting anak-anak selamat..." hibur Ibu. Cik Lili menggeleng. "Bukan rejeki yang saya pikir, Ibu Haji... Tapi kenapa saya yang musti pergi... Apa salah saya?" isaknya dalam pelukan Ibu.

Aku dan Sri bertatapan, masih tak mengerti apa yang terjadi. Antrian semakin panjang dan dua perempuan ini tak jua memisahkan pelukan. Sampai Koh Ah Bun berteriak memanggil isterinya untuk membantunya - dalam bahasa hokkian tentu saja. Koh Ah Bun pun tesenyum melambaikan tangan ke ibu dan mengacungkan jempol. "Saya punya barang bagus buat Bu Haji!" Ibu mengusap air mata dan tersenyum kepada Koh Ah Bun yang selalu terlihat ceria itu.

Hingga sampai giliran kami, Koh Ah Bun langsung mengeluarkan satu kardus berisi seperangkat minum teh yang cantik sekali. Bentuknya seperti kulit semangka, lurik-lurik hijau dan putih mengkilat dilapisi vernis mutiara. Dan satu lagi, Koh Ah Bun mengeluarkan sebuah wadah keramik berwarna cokelat tua. "Barang-barang paling bagus saya simpan buat Bu Haji. Semua cukup 10 rupiah saja." Ibu terkesiap. Ya, Ibu selalu suka perangkat minum teh keramik itu. Selalu dipajang di tempat paling baik di toko itu, sehingga semua orang bisa melihat dan mengaguminya. Tapi harganya masih terlalu tinggi buat Ibu, bahkan tidak sebanding walaupun panen tembakau berakhir. Sekarang hanya dijual 10 rupiah saja oleh Koh Ah Bun.

"Apa itu tak terlalu murah, Koh?" tanya Ibu.

"Ini tidak seberapa. Hitung-hitung kami balas jasa Ibu Haji yang sudah baik pada anak-anak. Dan lagipula Ibu Haji dan Datuk sudah kami anggap keluarga sendiri. Datuk sering kasih saya tembako gratis lho! Sudah sudah terima saja harga itu, Bu Hajiii...!"

Ibu merogoh dompetnya dan mengeluarkan 25 rupiah dari situ. "Saya maunya bayar segini. Sisanya buat jajan anak-anak di jalan besok. Perjalanan sungguh jauh..."

Cik Lili kembali tersedu sedan. Ia memeluk ibu lagi, dan kali ini Sri dan aku juga dipeluk. Dia mengusap-usap wajah Sri. "Anak cantik jaga Ibu Haji dan Bapak Datuk ya..." Sri mengangguk pelan lalu kami pun mengangkat perangkat minum teh dan wadah keramik tadi dan berjalan keluar toko. 



Probolinggo, 1966.
#menolaklupa

Catatan:
  • 1966 Baperki dibubarkan atas instruksi Soeharto pada 12 Maret. Terbit Kep. MPRS XXXII yang melarang pers menggunakan aksara Cina. Terbit Inpres No. 14 tentang pelarangan agama, kepercayaan, serta adat istiadat Tionghoa. Pengusiran dan pemulangan orang Tionghoa. Laporan penutup seminar AD ke-2/1966 untuk mengganti kata Tionghoa menjadi Cina.
  • 1968 Kerusuhan anti-Cina di Surabaya. Kerusuhan anti-Cina di Glodok oleh RPKAD. Berdiri SNPC (Sekolah Nasional Proyek Chusus) oleh SCUT.
  • Lengkapnya lihat: https://id-id.facebook.com/xiaoyucan/posts/240248802748249 

No comments:

Post a Comment