Tuesday, May 13, 2014

Menolak lupa

Paska kerusuhan Mei 1998, komplek perumahan saya di bekasi mendadak jadi ramai. Rumah banyak yang laku, dan ratusan warga tionghoa pindah ke sana. Awalnya mereka tinggal di sekitaran jakarta barat dan utara, namun kerusuhan dan penjarahan membuat mereka harus melupakan kawasan 'kepala naga' dan menyingkir ke daerah lebih dalam: 'perut naga'.

Saat itu komplek saya hampir tak tersentuh kerusuhan dan penjarahan. Ada yang berusaha, tapi segera dipadamkan oleh warga lama yang sebagian besar non-tionghoa. Eksodus pun terjadi dan kami hanya berpikir karena komplek kami mungkin potensial sebagai kawasan baru yang bisa bersaing dengan Kelapa Gading Permai.

Sejak saat itu, komplek ini ramai bukan kepalang. Pasar jadi penuh dan ramai. Barang yang dijual beraneka ragam. Apalagi makanan... Wuiihhh tak terkira banyaknya dan nikmat semua! Yang paling mantab adalah koleksi kue basah di pasar yang rupa-rupa dan lezat rasanya. Siapakah yang membuat? Tak lain adalah para warga baru keturunan tionghoa. Perekonomian di komplek kami menggeliat, harga rumah meningkat pesat. Alhasil berbagai fasilitas baru pun dibangun di atas kawasan yang belum lama 'hanya' hamparan sawah. 

Perbedaan paling mencolok adalah bapak saya jadi yang paling hitam di antara para tetangga. Terbukti saat pertandingan pingpong antar rukun tetangga. Di antara ratusan warga yang bersorak sorai menyaksikan pertandingan pingpong, saya bisa dengan cepat menemukan bapak saya, karena tetangga kami semuanya tionghoa dan bapak saya arab-jawa kulit keling. Hehehe...

Setiap tujuh belasan pun luar biasa ramainya. Berbagai perlombaan diadakan dan hadiahnya bukan main-main: televisi 40 inci sumbangan dari tetangga kami yang punya toko elektronik. Warga betawi di sekitar komplek pun ikut mengadu nasib di tiang panjat pinang, bekerjasama menggapai radio stereo set, rice cooker, baju bola, sepatu bola, sampai popok bayi. Riuh rendah suaranya terdengar dari rumah saya karena kebetulan rumah kami dekat lapangan. 

Saat ramadan, tajil buka puasa berjejer di sekitar rumah. Lezat-lezat dan pastinya home-made bergizi. Warga tionghoa muslim berbondong-bondong membersihkan mesjid bersama yang non-tionghoa biar enak untuk tarawih dan sholat Ied. Saat lebaran tiba, tetangga2 kami yang tionghoa ikut 'mager' di dapur ibu saya sekedar menemani ibu dan bapak yang sedang memasak ketupat (kudu begadang). Setelah ketupat jadi, mereka pun rebutan memesan lengkap dengan sayur dan sambal goreng kreceknya. 

Di hari pertama lebaran, mereka akan berbondong-bondong ke rumah "Pakde Item" (bapak saya) untuk mengucapkan selamat dan membawa berkeranjang-keranjang buah dan baju koko. Sampai sekarang masih banyak stok baju koko bapak saya yang belum dibuka dari plastiknya dan bapak berdoa semoga lebaran tahun ini tidak dikasih baju koko lagi.

Sebagai aktivis pingpong, bapak saya termasuk salah satu warga yang ngerumati balai warga di samping rumah tempat meja pingpong berada. Ada dua meja pingpong sumbangan beberapa warga tionghoa. Listrik balai juga dibayarkan oleh seorang warga tionghoa. Renovasi balai juga patungan beberapa warga tionghoa. Bapak saya nggak bisa nyumbang apa-apa, tapi bisanya cuma merawat balai itu. Kerjasama yang bagus kan? 

Semenjak 16 tahun berlalu, saya masih HERAN mengapa kerukunan versi mini di sekitar rumah saya ini tidak bisa terjadi di seluruh Indonesia. Kejadian brutal 16 tahun lalu sungguh tidak masuk di akal sehat manusia mana pun. Bagaimana bisa kepentingan segelintir orang bisa memakan nyawa ribuah jiwa seperti itu. Serta bagaimana segelintir orang bisa tidur nyenyak di malam hari mengingat berapa ribu manusia yang gosong terbakar, diperkosa, dibunuh, disiksa hanya untuk sebuah cita-cita kekuasaan? Betapa, ya betapa ujian itu tidak pernah selesai dan tak terpecahkan? Mengapa? Siapa dalangnya? 

Kalau mau tahu banget, sudah pasti kita harus menolak lupa. Jangan lupa. Jangan ingkari rasa kemanusiaan kita. Karena seperti para pendiri bangsa ini yakini bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya dan belajar dari kesalahan-kesalahannya. 

No comments:

Post a Comment