Thursday, March 5, 2015

Kereta api (bagian 2)

Kakek mengangkat kacamatanya. Dia menempelkan dahinya ke kaca mobil, tampak berusaha mengenali daerah di mana kemacetan ini terjadi.  

"Ini di mana, Rin?" tanyanya kepada saya.

"Pejaten, YangKung..." jawab saya.  

"Hohoho... Ya ya ya... Pejaten! Dulu di sini banyak villa! Tempat meneer dan mevrouw pesta-pesta... Sejuk sekali udaranya. Kok sekarang sudah seperti ini ya? Macet... Hmmm.... Kalau Kampung Kemang masih ada?" tanyanya lagi.

"Masih, YangKung," jawab saya,"Meneer dan Mevrouwnya juga masih banyak di sana!"

Saya memang suka menggoda Kakek yang sudah berkurang pendengaran. Kadang dia tahu kalau saya menggodanya, dan dia akan tertawa terbahak-bahak agak terlambat. Walaupun usianya beranjak ke digit 9, ingatannya luar biasa tajam. Apalagi kalau berurusan dengan sejarah bangsa dan kereta api. Dia bisa menjelaskan dengan detil kapan jalur-jalur kereta itu dibuat. Kakek saya bukan tipe pria yang hangat. Tetapi lewat kereta, dia setidaknya berusaha dekat dengan saya, cucu pertamanya.

Tahun 1974, Kakek dipindahkan lagi ke DAOP Bandung. Mereka menempati sebuah rumah bergaya art deco dan berhalaman luas di samping Stasiun Kiara Condong. Walaupun tidak sebagus rumah-rumah dinasnya di tempat lain, tapi akhirnya rumah dinas inilah persinggahan yang terakhir untuk Kakek sampai ia pensiun. Saya lahir dan menghabiskan sepertiga umur saya di rumah itu, saya mengenali seluruh kerutannya. Tak ada di rumah itu yang tidak berbau kereta api. Bahkan pagar rumah pun dibuat dari bantalan baja rel bekas yang dilego oleh Jawatan ke para pensiunan. Jadi hampir sederet rumah pensiunan itu bentuk pagarnya seragam: bantalan rel.

Tidak ada jam weker di rumah. Weker kami adalah terompet kereta. Kereta jurusan Surabaya akan mengaum tepat di depan rumah pukul 03.30 pagi dan menularkan getaran khas kereta lewat. Lalu Kakek dan Nenek akan otomatis bangun dan kemudian membangunkan seluruh penghuni rumah. Hanya saya dan satu sepupu saya, cucu-cucunya yang merasakan ritual 'awakening' khas Kakek bahkan di saat liburan sekolah: "Hayooo! Tangiiii... Tangiiii Wis awan jeeehh...! (Red: Bangun! Banguuun! Sudah siaaaaang...!)" (padahal masih jam 4 subuh...). Kalau kereta Surabaya terlambat lewat, Kakek pun akan menggerutu berkepanjangan. Terlambat memang tidak pernah ada dalam kamusnya.

 "Ya begini ini kalau Harto yang mimpin! Pegawai mental tempe semua! Kereta saja sampai terlambat! Coba kalau jaman Bung Karno, nggak ada itu kereta terlambat! Kalau terlambat ya bisa kalah perang! Haaarrtooo itu mustinya tahu!.....dst....dst....dst"

Liburan sekolah dan Natal selalu saya habiskan di Bandung. Selain merasakan ritual bangun pagi itu, saya juga hampir selalu menggunakan kereta kemana saja. Ke Kosambi, naik kereta. Ke Pasar Baru, naik kereta. Ke Bonbin, naik kereta. Kami tidak pernah membayar, karena Kakek punya kartu SAP. Saya jarang naik kereta di Jakarta, karena bapak saya punya motor. Jadi saya menikmati saja kemana-mana naik kereta ini. Naik kereta lebih cepat juga daripada naik angkot yang mulai menjamur di Bandung saat itu.

Pernah suatu kali saya diajak liburan oleh Kakek ke Gombong, tempat asalnya, untuk menjenguk adiknya. Mungkin karena musim liburan, semua kereta kelas ekonomi penuh. Jadi terpaksa kami harus naik gerbong barang. Selama 12 jam, saya bersama sepupu saya, paman saya dan Kakek duduk di gerbong barang hanya beralaskan koran. Kalau ditanya perasaan saya waktu itu tentu saja saya stress luar biasa. Bagaimana tidak? Kereta itu berhenti di setiap stasiun yang dilewati, lalu di setiap stasiun ada saja orang, barang, dan hewan yang naik bergantian. Saya harus tidur atau pura-pura tidur di sebelah puluhan ayam dalam kurungan yang besar. Lalu seember ikan. Lalu ayam lagi. Lalu kambing. Belum lagi gerbong itu panas sekali. Bau ayam, kambing, ikan, keringat orang, pipis bayi, campur aduk jadi satu.

Kalau saya dan sepupu saya mau menangis karena tidak tahan, Kakek akan menunjuk ke arah anak yang lebih kecil dari kami. Anak itu duduk anteng sambil makan wafer. "Lihat. Masa kalian kalah sama adek itu?" Karena kami anak-anak Jakarta bergengsi tinggi, kami terpaksa usap air mata kami dan menahan seluruh emosi sampai kami tiba di Gombong.

Saat saya liburan sekolah di Bandung, hal yang paling saya tunggu setiap hari adalah menanti matahari terbit atau tenggelam sambil mengajak anjing-anjing kami jalan-jalan di sepanjang rel kereta. Tujuan kami adalah bermain di antara gerbong-gerbong tua yang berjejer di dekat kantor perawatan. Gerbong abu-abu lusuh itu menjadi saksi semua kenakalan saya dan saudara-saudara saya.

Dulu tahun 80-an, stasiun Kiara Condong tidak seluruhnya berpagar seperti sekarang. Semua orang bebas melintasi rel atau menitinya menuju peron. Dari situlah lahirnya cerita-cerita horor. Banyak sekali kejadian orang ditabrak kereta; ya entah murni kecelakaan atau bunuh diri karena patah hati atau dikejar utang. Banyak orang gila yang juga terlindas. Yang paling terekam di ingatan saya adalah suami istri lanjut usia penjual dawet/cendol yang tertabrak kereta. Kalau kata tetangga, saat itu banyak orang sudah berseru menyuruh mereka menjauhi rel karena terompet kereta sudah terdengar mendekat dan pintu lintasan sudah ditutup. Tapi seakan-akan mereka tidak mendengar. "Ah lamun didieu mah loba jurig sering nutupan ceuli!" (Kalau di sini banyak setan yang suka menutup telinga) Lalu kami yang kecil-kecil ini kerap diberitahu untuk selalu berhati-hati kalau membawa jalan anjing atau bermain di gerbong tua.

Tapi biar begitu, tetap saja kegiatan di sekitar rel depan rumah dinas baik itu jualan kaki lima atau apa pun berlangsung. Bahkan warga sekitar yang punya hajat sering menggelar layar tancap di lapangan pinggir rel. Nah, untuk menambah ketegangan urban legend di daerah rumah kami, maka panitia layar tancap seringnya memutar film horor dari kuntilanak suzana sampai pocong benyamin. Sambil diselingi jeda kereta lewat tentunya. ;)

-bersambung.


No comments:

Post a Comment