Friday, November 21, 2014

Kereta Api (bagian 3)

Saya pernah menulis puisi yang berlatar belakang cerita bertema kereta api yang ketiga ini. Ini memang cerita tentang keluarga saya, tentang orang-orang yang saya sangat cintai: eyang kakung dan eyang putri saya. Dan entah kenapa semua jadi berbau kereta.

Mulanya nenek saya bernama Sri Rejeki, namun setelah menjadi katolik dia mengubah namanya menjadi Maria Goretti Sri Priyanti - seperti nama ibunya. Saya tak pernah mengenal eyang-eyang buyut saya, tapi eyang putri saya pernah berkata kalau saya sangat mirip (terutama rambutnya) dengan eyang buyut putri, Eyang Priyanti.

Eyang Priyanti berasal dari keluarga priyayi, saudagar besar di Kota Semarang, Jawa Tengah. Sementara eyang buyut kakung saya - Eyang Seno - berasal dari keluarga bangsawan dari Tuban, Jawa Timur. Mereka mempunyai 2 orang putra dan 1 orang putri, yaitu eyang putri saya. Awalnya mereka hidup senang di Kediri, Jawa Timur, namun akhirnya eyang Priyanti memutuskan untuk kembali ke Semarang setelah menyerah hidup dengan bangsawan nyeleneh macam eyang Seno.

Jangan pikir macam-macam dulu. Eyang Seno nyeleneh karena ternyata dia sangat menyukai seni. Beliau bisa memainkan berbagai macam alat musik, jago melukis, menari, drama dan mempelajari ilmu herbal. Kok ya saya curiga eyang Seno ini kayaknya berbintang Pisces kayak saya. ;)))

Sementara eyang Priyanti- putri priyayi tulen - biasa hidup serius. Sungguh serius. Orangnya apik, bersihan, teratur, jago table manner Eropa, pintar menjahit, baca tulis ngomong boso londo. Setiap natal, cerita yang selalu diceritakan kembali soal eyang Priyanti oleh ibu saya dan adik-adiknya (yang sempat mengenalnya) adalah soal eyang buyut sangat strict dalam hal table manner dan kebersihan. Dan betapa mereka sungguh tersiksa dengan itu karena tidak pernah diajari oleh ibu mereka, si Sri Rejeki bandel, soal table manner whatsoever.

Tentu saja dua pribadi sejoli itu sangat bertolak belakang dan akhirnya eyang Priyanti memutuskan untuk kembali ke Semarang. Karena sesuatu dan lain hal, eyang Priyanti meninggalkan ketiga orang anaknya bersama dengan suaminya jauh di Kediri sana. Saat itu kira-kira tahun 1937, eyang Sri baru berusia 5 tahun...

Eyang Sri cerita kalau saat itu dia menangis tanpa henti, siang-malam. Dia ingin ibunya kembali. Tapi keangkuhan priyayi Jawa di jaman revolusi sungguh rumit. Kepergian eyang Priyanti menjadi wajar. Menjadi keharusan. Jaman bergerak, jangan hidup susah. Tidak ada pertanyaan yang keluar dari anak-anaknya saat itu. Mereka hanya menangis di dalam kamar yang dikunci. Kejadian itu menyisakan trauma untuk eyang Sri, tapi juga awal dari sebuah kisah hidup paling spektakuler yang pernah saya dengar (dari keluarga sendiri).

Setelah ditinggal ibunya pergi, tiga bersaudara ini pun hidup berpindah-pindah mengikuti bapaknya yang bohemian. Eyang Seno sempat menikah beberapa kali, tapi hanya sedikit sekali ibu tiri (dan keluarganya) yang bisa menerima tiga anak terlunta-lunta ini.

Saat eyang Seno menikahi entah siapa (eyang Sri nggak inget katanya :))), isteri barunya tidak menginginkan tiga anak bawaannya tinggal serumah. Eyang Seno pun mengambil keputusan dramatis: menuruti isteri barunya. Tiga bersaudara ini pun dititipkan di rumah keluarga jauh. Alih-alih diurus, mereka disuruh  bekerja bagai budak. Mereka harus memasak, menyapu, membabat rumput, memberi makan sapi, kambing dan ayam, membersihkan kotoran kuda andong, menimba sumur, memanen hasil kebun, telur ayam, dll, dsb. Bayarannya? Nasi bulgur dan ikan asin kering.

Eyang Sri tentu saja tidak tahan hidup seperti itu. Mungkin biasa diladeni, walau tidak dididik menjadi anak manja. Kalau mentalnya jatuh, kakak-kakaknya - eyang Tong dan eyang Ji - akan menghiburnya: digendong, ditembang, diajak nyolong jambu dan mangga. Tapi hiburan demi hiburan ini ternyata tidak mempan untuk hati si gadis kecil.

Hingga pada suatu malam, saat mereka bertiga berusaha tidur di tengah kerumunan kutu busuk di sebelah kandang sapi, eyang Sri merengek: "Mas.... aku mau ke rumah ibu...."

Eyang Tong dan eyang Ji sudah biasa mendengar adiknya merengek, tapi kali ini mereka tahu kalau itu adalah rengekan yang tidak main-main lagi. Mereka tidak jadi tidur. Ayam jantan berkokok tengah malam. "Wis, wis... ojo nangis, Sri... Gimana mau ke rumah ibu. Rumah ibu jauh..."

Sri kecil tidak mengenal konsep jauh. Jiwa kanak rindu puting susu ibunya meronta malam itu, tidak menerima segala alasan dan hiburan kakak-kakaknya. Eyang Tong yang banyak akal pun bangkit dari tumpukan jerami alas tidur mereka.

"Yuk melu aku. Kita ke rumah ibu sekarang!"

Tangis Sri langsung berubah jadi decak kagum ke kakak sulungnya itu. Eyang Sri dan eyang Ji ikut bangkit dari jerami. Pelan-pelan mereka mengikuti langkah eyang Tong keluar dari gubuk reyot sebelah kandang sapi itu.

Meraba-raba dalam gelap, kakak beradik itu jalan berurutan sambil memegang baju masing-masing dengan eyang Tong memimpin di depan. "Awas, Sri jangan ketinggalan!"

Setelah dua puluh menit berjalan dalam gelap, eyang Tong menghentikan langkah. Dia melepaskan gandengannya ke eyang Ji, lalu berjalan mengendap ke balik ilalang. Di balik ilalang itu ada cahaya temaram lampu minyak teplok yang berasal dari sebuah stasiun kereta kecil. Seorang coolie tampak tidur mendengkur di peron kayu. Di sebelahnya ada dua keranjang besar berisi beberapa tandan pisang kepok dan pepaya. Sepertinya dia bukan coolie, tapi tukang penjaja buah yang kemalaman di jalan.

Eyang Tong memeriksa sekitar. Stasiun sudah gelap. Mungkin petugasnya sudah pulang atau tidur di dalam ruangan. Eyang Tong memicingkan mata, berusaha melihat ke kegelapan. Jaga-jaga jangan sampai ada KNIL di stasiun ini.

Aman. Eyang Tong melangkah hati-hati ke keranjang penuh pisang kepok dan pepaya itu. Dengan hati-hati, diambilnya setandan pisang. Tak lama dia pun melesat kembali ke balik ilalang tempat dua adiknya menunggu.

"Mas! Kok kowe nyolong tho?!" pekik eyang Sri tertahan.
"Lhooo... ini bekal buat di jalan... Kalau kamu lapar gimana? Memangnya kita punya uang? Wis tho dipangan wae!" eyang Tong membela diri. Adik-adiknya pun berpikir dan mengangguk. Rumah ibu jauh, kita musti makan.
"Terus piye carane ke rumah ibu, Mas?" tanya eyang Ji.
"Yo mlaku..." jawab eyang Tong.
"Yo mlaku nengndi?" tanya eyang Ji lagi.
"Ya ikutin aja rel itu. Itu pasti ujungnya ke rumah ibu. Rumah ibu di Semarang kan dekat stasiun!"

Harapan muncul seperti matahari yang terbit kepagian di hati eyang Sri kecil. Dia masih ingat rumah ibunya saat diajak berkunjung di hari raya sebelum orangtuanya berpisah. Halamannya yang besar, ruangan-ruangannya yang megah dihiasi kursi-kursi berukir, makanan yang berlimpah dan bukan nasi bulgur. Dan stroop! Sri sungguh kangen minum stroop manis bikinan ibu! Sri memejamkan mata. Wajah ibunya langsung tersorot pada layar imaji di kepalanya, seperti film londo yang sering diputar meneer-meneer.

"Laahh... kok malah ngantuk? Ini pegang pisangnya, Ji. Biar aku gendong Sri. Ayok kita jalan, nanti keburu terang. Banyak KNIL. Ati-ati jangan kesandung rel."

Tiga tahun lalu, eyang Tong tetiba menelepon eyang Sri dari Bali, dari rumah peninggalan ayah mereka. Nada suaranya sungguh girang, dia berkata,"Dik, aku baru menemukan catatan bapak. Ternyata kamu lahir tahun 1932, bukan 1935! Kita sudah tua ya, Dik..." 

Eyang Sri menjawab."Iya Mas, wis tuo... Mas sing sehat yooo... Besok ta' kirimi jamu buat encoknya.."

Eyang Tong terkekeh. "Encok kebanyakan gendong kamu, dik!"

Setahun kemudian eyang Tong meninggal dunia. Kata eyang Sri, sebelum meninggal dia sempat menelepon lagi hanya untuk memberi tahu kalau jamu racikan adiknya luar biasa enak dan encoknya tidak pernah kambuh lagi. :)


Monday, June 30, 2014

tentang kesedihan

apa yang paling sedih dari kehilangan anak? kukira tidak ada. bahkan ketika kau belum melihat wajahnya, merasakan kelembutan tangannya, mencium harum nafasnya. bahkan.

apa yang paling sedih dari menyiapkan liang kuburnya? kurasa tidak ada. sejenak kau berpikir tak ada bunga yang paling harum yang bisa menutupi kuburnya, menutupi kesedihanmu saat malam datang dan rindu menerjang. rindu.

lalu duniamu yang tadinya ramai dengan harapan kini mendadak sepi. lalu mau tak mau kau melanjutkan hidup lagi.






:untuk caraka

Tuesday, May 13, 2014

Obral Besar

Matahari belum lagi tinggi tapi pagi itu kota kecil ini tampak sibuk sekali. Dua truk tentara nampak parkir di dekat pabrik gula belakang rumah. Tak terlihat tentaranya. Mungkin sedang sarapan.

Ibu sudah rapi dengan kebaya cokelatnya. Ditentengnya tas belanja plastik besar warna oranye yang biasa ia bawa ke pasar. Cepat-cepat dia memanggil aku dan Sri, anak semata wayangnya. "Ayo cepat!"

Sri dan aku tergopoh-gopoh mengikuti perintah ibu. Sri mengepang rambutnya yang panjang sembari berjalan. Secepat apa pun kami berjalan memakai rok klok longgar yang kami jahit sendiri, tampaknya tidak bisa mendahului gegap langkah ibu dalam balutan jarik batik madura.

Ibu hanya ingin cepat sampai ke toko Koh Ah Bun yang terletak tak jauh dari rumah. Toko Koh Ah Bun menjual berbagai macam perangkat makan dan minum. Cantik-cantik sekali. Setiap kali habis panen, Ibu selalu mampir ke toko itu dan membeli seperangkat minum teh atau piring-piring. Jika panen tak begitu bagus, ibu hanya membeli satu atau dua cangkir saja. Tapi jika panen tembakau, Ibu bisa dipastikan pulang dengan satu becak tambahan penuh dengan barang.

Tapi hari ini tembakau belum lagi bisa dipanen. Ibu harus sampai pertama kali di toko Koh Ah Bun karena hari ini hari OBRAL BESAR. Koh Ah Bun mengobral seluruh perangkat keramik dan kuningannya karena besok ia dan keluarganya harus pergi dari kota ini. Apa pasalnya kami tak pernah benar-benar tahu. Koh Ah Bun sudah berpuluh tahun tinggal di sini. Semua anaknya lahir dan bersekolah bersama kami. Tapi kemarin malam bapak bilang kalau semua orang tionghoa harus pergi dari kota ini. Dari negara ini. Kemarin malam pun, seorang kuli toko Koh Ah Bun pun menghampiri rumah kami, memberitahukan kepada ibu - pelanggan setia Koh Ah Bun - bahwa besok Koh Ah Bun akan mengadakan obral besar.

Sesampai jalan raya, langkah ibu semakin cepat meninggalkan kami yang hampir berlari di belakangnya. Sesampainya di toko Koh Ah Bun, kami tercekat karena banyaknya orang yang mengantri di depan toko. Sebuah tulisan OBRAL pun terpampang di depan toko dengan cat warna merah menyala. Orang-orang keluar dari toko dengan membawa berkardus-kardus perangkat minum teh dan piring. Olala...wajah Ibu pun semakin pucat dan ia semakin bergegas menuju barisan antrian.

Namun dari jauh Cik Lili, isteri Koh Ah Bun sudah melihat ibu. "Ibu Hajiiii...! Ibu Hajiii...!" Cik Lili memanggil-manggil ibu. Raut wajah Cik Lili langsung berubah dan segera dia berlari menghampiri ibu sambil berlinang air mata. Kami melihat dua perempuan sebaya ini berpelukan erat. Cik Lili dan ibu pun menangis tersedu-sedu. Tak pernah ada di dalam imajinasinya yang paling liar bahwa dia harus meninggalkan kota ini, negara ini. Tempat ia lahir dan bernaung seumur hidupnya.

"Yang tabah ya Cik... Rejeki tidak kemana, yang penting anak-anak selamat..." hibur Ibu. Cik Lili menggeleng. "Bukan rejeki yang saya pikir, Ibu Haji... Tapi kenapa saya yang musti pergi... Apa salah saya?" isaknya dalam pelukan Ibu.

Aku dan Sri bertatapan, masih tak mengerti apa yang terjadi. Antrian semakin panjang dan dua perempuan ini tak jua memisahkan pelukan. Sampai Koh Ah Bun berteriak memanggil isterinya untuk membantunya - dalam bahasa hokkian tentu saja. Koh Ah Bun pun tesenyum melambaikan tangan ke ibu dan mengacungkan jempol. "Saya punya barang bagus buat Bu Haji!" Ibu mengusap air mata dan tersenyum kepada Koh Ah Bun yang selalu terlihat ceria itu.

Hingga sampai giliran kami, Koh Ah Bun langsung mengeluarkan satu kardus berisi seperangkat minum teh yang cantik sekali. Bentuknya seperti kulit semangka, lurik-lurik hijau dan putih mengkilat dilapisi vernis mutiara. Dan satu lagi, Koh Ah Bun mengeluarkan sebuah wadah keramik berwarna cokelat tua. "Barang-barang paling bagus saya simpan buat Bu Haji. Semua cukup 10 rupiah saja." Ibu terkesiap. Ya, Ibu selalu suka perangkat minum teh keramik itu. Selalu dipajang di tempat paling baik di toko itu, sehingga semua orang bisa melihat dan mengaguminya. Tapi harganya masih terlalu tinggi buat Ibu, bahkan tidak sebanding walaupun panen tembakau berakhir. Sekarang hanya dijual 10 rupiah saja oleh Koh Ah Bun.

"Apa itu tak terlalu murah, Koh?" tanya Ibu.

"Ini tidak seberapa. Hitung-hitung kami balas jasa Ibu Haji yang sudah baik pada anak-anak. Dan lagipula Ibu Haji dan Datuk sudah kami anggap keluarga sendiri. Datuk sering kasih saya tembako gratis lho! Sudah sudah terima saja harga itu, Bu Hajiii...!"

Ibu merogoh dompetnya dan mengeluarkan 25 rupiah dari situ. "Saya maunya bayar segini. Sisanya buat jajan anak-anak di jalan besok. Perjalanan sungguh jauh..."

Cik Lili kembali tersedu sedan. Ia memeluk ibu lagi, dan kali ini Sri dan aku juga dipeluk. Dia mengusap-usap wajah Sri. "Anak cantik jaga Ibu Haji dan Bapak Datuk ya..." Sri mengangguk pelan lalu kami pun mengangkat perangkat minum teh dan wadah keramik tadi dan berjalan keluar toko. 



Probolinggo, 1966.
#menolaklupa

Catatan:
  • 1966 Baperki dibubarkan atas instruksi Soeharto pada 12 Maret. Terbit Kep. MPRS XXXII yang melarang pers menggunakan aksara Cina. Terbit Inpres No. 14 tentang pelarangan agama, kepercayaan, serta adat istiadat Tionghoa. Pengusiran dan pemulangan orang Tionghoa. Laporan penutup seminar AD ke-2/1966 untuk mengganti kata Tionghoa menjadi Cina.
  • 1968 Kerusuhan anti-Cina di Surabaya. Kerusuhan anti-Cina di Glodok oleh RPKAD. Berdiri SNPC (Sekolah Nasional Proyek Chusus) oleh SCUT.
  • Lengkapnya lihat: https://id-id.facebook.com/xiaoyucan/posts/240248802748249 

Menolak lupa

Paska kerusuhan Mei 1998, komplek perumahan saya di bekasi mendadak jadi ramai. Rumah banyak yang laku, dan ratusan warga tionghoa pindah ke sana. Awalnya mereka tinggal di sekitaran jakarta barat dan utara, namun kerusuhan dan penjarahan membuat mereka harus melupakan kawasan 'kepala naga' dan menyingkir ke daerah lebih dalam: 'perut naga'.

Saat itu komplek saya hampir tak tersentuh kerusuhan dan penjarahan. Ada yang berusaha, tapi segera dipadamkan oleh warga lama yang sebagian besar non-tionghoa. Eksodus pun terjadi dan kami hanya berpikir karena komplek kami mungkin potensial sebagai kawasan baru yang bisa bersaing dengan Kelapa Gading Permai.

Sejak saat itu, komplek ini ramai bukan kepalang. Pasar jadi penuh dan ramai. Barang yang dijual beraneka ragam. Apalagi makanan... Wuiihhh tak terkira banyaknya dan nikmat semua! Yang paling mantab adalah koleksi kue basah di pasar yang rupa-rupa dan lezat rasanya. Siapakah yang membuat? Tak lain adalah para warga baru keturunan tionghoa. Perekonomian di komplek kami menggeliat, harga rumah meningkat pesat. Alhasil berbagai fasilitas baru pun dibangun di atas kawasan yang belum lama 'hanya' hamparan sawah. 

Perbedaan paling mencolok adalah bapak saya jadi yang paling hitam di antara para tetangga. Terbukti saat pertandingan pingpong antar rukun tetangga. Di antara ratusan warga yang bersorak sorai menyaksikan pertandingan pingpong, saya bisa dengan cepat menemukan bapak saya, karena tetangga kami semuanya tionghoa dan bapak saya arab-jawa kulit keling. Hehehe...

Setiap tujuh belasan pun luar biasa ramainya. Berbagai perlombaan diadakan dan hadiahnya bukan main-main: televisi 40 inci sumbangan dari tetangga kami yang punya toko elektronik. Warga betawi di sekitar komplek pun ikut mengadu nasib di tiang panjat pinang, bekerjasama menggapai radio stereo set, rice cooker, baju bola, sepatu bola, sampai popok bayi. Riuh rendah suaranya terdengar dari rumah saya karena kebetulan rumah kami dekat lapangan. 

Saat ramadan, tajil buka puasa berjejer di sekitar rumah. Lezat-lezat dan pastinya home-made bergizi. Warga tionghoa muslim berbondong-bondong membersihkan mesjid bersama yang non-tionghoa biar enak untuk tarawih dan sholat Ied. Saat lebaran tiba, tetangga2 kami yang tionghoa ikut 'mager' di dapur ibu saya sekedar menemani ibu dan bapak yang sedang memasak ketupat (kudu begadang). Setelah ketupat jadi, mereka pun rebutan memesan lengkap dengan sayur dan sambal goreng kreceknya. 

Di hari pertama lebaran, mereka akan berbondong-bondong ke rumah "Pakde Item" (bapak saya) untuk mengucapkan selamat dan membawa berkeranjang-keranjang buah dan baju koko. Sampai sekarang masih banyak stok baju koko bapak saya yang belum dibuka dari plastiknya dan bapak berdoa semoga lebaran tahun ini tidak dikasih baju koko lagi.

Sebagai aktivis pingpong, bapak saya termasuk salah satu warga yang ngerumati balai warga di samping rumah tempat meja pingpong berada. Ada dua meja pingpong sumbangan beberapa warga tionghoa. Listrik balai juga dibayarkan oleh seorang warga tionghoa. Renovasi balai juga patungan beberapa warga tionghoa. Bapak saya nggak bisa nyumbang apa-apa, tapi bisanya cuma merawat balai itu. Kerjasama yang bagus kan? 

Semenjak 16 tahun berlalu, saya masih HERAN mengapa kerukunan versi mini di sekitar rumah saya ini tidak bisa terjadi di seluruh Indonesia. Kejadian brutal 16 tahun lalu sungguh tidak masuk di akal sehat manusia mana pun. Bagaimana bisa kepentingan segelintir orang bisa memakan nyawa ribuah jiwa seperti itu. Serta bagaimana segelintir orang bisa tidur nyenyak di malam hari mengingat berapa ribu manusia yang gosong terbakar, diperkosa, dibunuh, disiksa hanya untuk sebuah cita-cita kekuasaan? Betapa, ya betapa ujian itu tidak pernah selesai dan tak terpecahkan? Mengapa? Siapa dalangnya? 

Kalau mau tahu banget, sudah pasti kita harus menolak lupa. Jangan lupa. Jangan ingkari rasa kemanusiaan kita. Karena seperti para pendiri bangsa ini yakini bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya dan belajar dari kesalahan-kesalahannya. 

Sunday, April 27, 2014

Jadi....

Semua yang menjadi-jadi itu biasanya tidak akan jadi. Apalagi jadi-jadian!