Thursday, December 12, 2013

Kereta Api (bagian 1)

Tak banyak orang yang tahu apa makna kereta api dalam hidup saya. Kereta api adalah segalanya untuk saya karena darinyalah hidup saya dan keluarga berawal.

Kakek saya telah bekerja di perusahaan jawatan kereta api sejak masih bernama Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV.NISM) pada kira-kira tahun 1934Kira-kira umurnya waktu itu 13 tahun. Kira-kira karena dia sendiri kurang tahu dia lahir tahun berapa. Dicurigai kakek saya lahir tahun 1921. Ia awali karirnya di spoorweg sebagai buruh kasar, belumlah diakui sebagai pegawai. Apalagi ia anak petani miskin yang hampir sebatang kara, sekolah rakyat pun tak tamat. Kakek bekerja sambil mengasuh adik bungsunya semata wayang.

Semuanya baik-baik saja sampai pasukan Jepang datang. Kakek dipaksa menjadi romusha, menelusuri rel-rel sepanjang Jawa Tengah. Ia pun hampir terbunuh ketika Jepang kalah telak dengan Sekutu. Tapi nasibnya terlalu baik. Sebelum pelor pistol tentara Jepang menembus kepalanya, tiba-tiba sepasukan tentara yang tadinya hendak mengeksekusi semua romusha, lari tunggang langgang karena mendengar deruan kapal terbang sekutu di atas kepala. Kakek pun selamat dan meneruskan perdjoeangan dengan tetap menjadi pegawai kereta api. Ia meloloskan para gerilyawan ke Pasundan, Yogya, Madiun, Tuban, Kediri. Lalu pura-pura bodoh kalau tentara Sekutu dan KNIL menginterogasi semua pegawai stasiun. Tak jarang ia harus menerima tamparan atau bogem mentah. Tapi mimpi-mimpi repoebliken masih terlalu indah di kepalanya yang muda.

Sekitar akhir tahun 40-an, tak lama setelah perjanjian Roem-Royen, Kakek berjalan dari tempat indekoost-nya menuju tempat kerjanya di Stasiun Tawang, Semarang. Saat melintas di sebuah rumah tempat ia biasa bermain badminton, tiba-tiba sebiji kerikil menyerangnya. Pletak! Kakek berteriak mengaduh dan langsung mencari dari mana kerikil itu berasal. Tak lama terdengar suara cekikik anak kecil dari rumah besar empunya lapangan badminton. Kakek berusaha mencari si anak nakal itu. Kurang ajar betul! Lalu secepat kilat sebiji kerikil melayang lagi. Cletuk! Suara cekikik semakin keras! Kakek menggeram. "Hei! Keluar kamu! Jangan main timpuk sembarangan!" teriaknya. Tapi si anak tertawa makin keras dan melarikan diri ke bagian rumah paling dalam. Kakek luar biasa marah. Karena tidak bisa seenaknya masuk ke rumah orang - apalagi itu rumah priyayi empunya lapangan badminton - maka Kakek memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke kantor.

Tak lama berselang tahun kemudian. Kakek mendatangi rumah itu dan melamar si anak kecil pembuat onar pelempar batu, anak si empunya lapangan badminton, yang kemudian menjadi Nenek saya.

Resiko menjadi istri pegawai Djawatan pun langsung dirasakan Nenek. Berpindah dari satu kota ke kota lain. Dari satu stasiun ke stasiun lain. Belum lagi kalau ada pemberontakan-pemberontakan kecil pendukung Muso, Kartosuwirjo atau sisa-sisa KNIL. Tak hanya itu, semakin hari gaji pegawai kereta api semakin mengecil saja. Waktu itu gaji Kakek hanya sekitar 50 rupiah. Mencari beras semakin susah, sementara Bung Karno bukan main keras kepalanya. Dekrit sana Dekrit sini. Tapi Kakek tidak pernah melunturkan cintanya kepada si Bung. Didengarkannya setiap pidato di radio. Diserapnya nada yang berkobar-kobar itu ke dalam pembuluh darahnya. Nada yang pernah membebaskan kita dari derita gulungan penjajah. Kakek juga akan berlari ke peron stasiunnya jika kereta yang membawa Soekarno melintas. Dia akan berdiri tegak dan memberikan penghormatan. Sampai tukang penjual kacang rebus di peron stasiun pun dia suruh hormat. Ini Bung Karno!

Semakin terpencil Kakek ditempatkan, semakin lambat gaji sampai di kutang Nenek. Nenek harus rajin bercocok tanam di sekitar halaman rumah yang besar agar seisi rumah tidak kelaparan. Ya, walaupun gaji tak seberapa, seluruh pegawai Djawatan pasti mendapatkan rumah dinas yang besar. Tipikal rumah gaya art deco peninggalan Belanda, dengan kusen-kusen kayu jati yang besar, kokoh, garang dipoles vernis hitam legam. Tampak mentereng dan eksklusif. Kadang rumah dinas itu saking besarnya bisa dibagi 4 keluarga pegawai Djawatan. Dan keempat keluarga itu bisa bercocok tanam di sekitar rumah atau beternak. Belum lagi air ledeng yang mengalir langsung dari pipa-pipa air, bukan dari sumur gali, sejernih mata air pegunungan.

Tapi di meja makan kenyataan tidak secantik rumah mereka. Satu butir telur harus dibagi 5, daging hanya ada di hari raya, beras pun kadang dicampur jagung atau singkong. Tak jarang jika gaji sudah sungguh terlambat, bos priyayi empunya lapangan badminton datang dengan jeep willis penuh dengan karung-karung beras dan terigu, berkilo daging ayam lengkap telurnya dan atau sapi . Setiap kali jeep willis datang, setiap kali pula Kakek harus menahan gengsi sama mertuanya. Apalagi si mertua dengan gaya cueknya pasti berkata kepada Nenek dengan suara dikeras-keraskan: "Ya nasibmu nduk mangan kalender..." (baca: bergantung dari gaji).

Entah sudah berapa kalender yang harus mereka bakar untuk memasak nasi jagung atau bulgur. Politik di Jakarta semakin memanas, menurut Kakek. Hati Kakek terluka karena idolanya semakin memberikan ruang-ruang strategis untuk petinggi-petinggi PKI di Istana. Mungkin jaman sudah edan, katanya. Tapi tak ada pilihan lain baginya untuk terus percaya kepada pilihan-pilihan junjungannya, Bung Karno.

Tak lama Kakek dipindah-tugaskan ke Sigli, Aceh untuk jadi kepala stasiun di sana. Seumur-umur mereka sekeluarga belum pernah menginjakkan kaki keluar Jawa. Bahkan Nenek pun tidak pernah berkunjung ke rumah Kakek Buyut di Bali. Kali ini mereka harus terlempar jauh ke ujung Indonesia. Bayangkanlah Nenek harus membawa 4 anak kecil dan 1 bayi mereka yang baru saja lahir, naik montor mabhur (baca: kapal terbang) selama 4 jam lamanya! Tentunya penuh drama. Tapi akhirnya sampai juga dengan selamat walaupun muntah-muntah mabuk udara.

Hidup di Sigli sungguh berbeda dengan di Jawa. Di sana, Kakek jadi pejabat terkemuka. Rumah mereka terletak di jantung kota, bersebelahan dengan Kantor Telkom dan Rumah Komandan Kodim. Lokasi elite. Di sana saat itu PKI adalah partai termahsyur dan didukung oleh banyak orang. Hampir semua guru-guru sekolah ibu saya pun anggota PKI. Halaman belakang rumah mereka berbatasan dengan pantai. Saat itu Bung Karno sedang seru-serunya menggalang Ganyang Malaysia. Setiap kali kapal perang Malaysia tertangkap teropong, sirene akan meraung-raung di seluruh kota. Dalam hitungan menit, ratusan tentara akan berbaris di sepanjang bibir pantai belakang rumah dengan moncong senjata mengarah ke laut. Ibu saya dan teman-temannya akan berlomba-lomba memanjat pagar belakang rumah untuk menyaksikan momen-momen menegangkan itu. "Kita mau perang! Hore! Mau perang! Ganyang Malaysiaaaa!" Anak-anak kecil bersorak-sorai, tidak pernah tahu perang seperti apa.

Kita memang tidak jadi perang lawan Malaysia. Tapi perang melawan saudara sendiri. Suatu hari Kakek tergopoh-gopoh pulang ke rumah. Dia mencari-cari adik sepupunya, sebut saja Darman. Nenek bilang Darman sedang pergi bersama teman-temannya. Kakek panik sekali. Dia bilang Darman dicari tentara. Nenek ikutan panik. Kok bisa? Semua yang mendukung PKI dicari tentara! Kok 'ngerti? Tentu saja Kakek mengerti karena intel tentara sudah mendatanginya di kantor, menanyakan keberadaan Darman. Seluruh kota sudah tahu kalau Kakek simpatisan PNI, bukan PKI. Tentara sangat spesifik. Mereka mencari simpatisan PKI. Darman itu hanya anak gaul yang sumeh, murah senyum. Setiap hari ada saja partai cari sumbangan; PKI, Masjumi, PNI. Kalau yang menerima Nenek atau Kakek, selain PNI, tidak diberikan sumbangan. Tapi kalau yang menerima adalah Darman, partai apa pun pasti disumbang. Teken, kasih duit seperak. Beres. Itulah mengapa nama Darman ada di dalam daftar pendukung PKI.

Rupanya Gusti Allah masih sayang Darman. Sore itu Darman pulang bersiul-siul naik sepeda. Sampai di rumah, Kakek langsung menyeretnya masuk ke dalam gudang penyimpanan beras. "Kau duduk di situ! Jangan bergerak sampai aku sendiri yang membawamu keluar! Mbakmu akan kasih makan lewat lubang. Jangan bersuara kalau kau masih mau hidup! Bapakmu nggak ngirim kau kemari buat mati! Paham?!" Kakek menimbun Darman dengan karung-karung beras dan tumpukan singkong, ubi, kopi, dan sebagainya. Darman mendekam di sana seperti tikus selama dua bulan. Dari bawah tumpukan beras, Darman mendengar rentetan senjata di rumah sebelah. Lalu teriakan-teriakan. Lalu sunyi. Lalu malam datang dan ibu saya mengendap-endap masuk ke gudang: "Lek, kami nggak apa-apa, ini makanan buat paklek..."

Suatu malam, Kakek masuk ke dalam gudang. Didorongnya tumpukan beras penuh kutu. Darman terbaring lemah di rongga krat kayu jati yang dipakai untuk menahan beras. Badannya kurus tinggal belulang, penuh kurap, mulutnya kering. Kakek membopong Darman dan membawanya ke garasi. "Kantor akhirnya memintaku segera ke Jawa. Sudah tidak aman di sini. Tidak bisa naik kereta. Kita naik mobil menuju Medan sekarang. Berbaringlah kau di bawah jok, nanti anak-anak akan duduk di atasnya. Seharusnya aman. Selepas dari Aceh, kau baru bisa kukeluarkan. Ingat, jangan bersuara! Kita harus selamat sampai di Jawa."

Menurut cerita ibu saya, perjalanan itu menjadi perjalanan paling panjang dan menegangkan dalam hidupnya.