Tuesday, January 22, 2013

The art of letting go

Punggungmu adalah yang ingin kulihat setiap hari. Aku tak ingin kamu berpaling. Karena wajahmu itulah yang menghentikanku, menghentikan waktu. Aku tak ingin kamu tersenyum. Karena senyummu itulah simalakama yang berkali-kali kutelan bersama setangkup rasa bersalah.

Karena kamu adalah senin sampai minggu. Kamu adalah detik-detik yang telah menjadi jantung dan sejarahku. Kamu adalah lembar-lembar catatan harian yang kutulis dan kusimpan dalam rahasia. Kamu adalah angin yang membawa perjalananku, yang menghembuskan badai dalam setiap 'hai' dan 'bye'. Dan pertanyaan... Pertanyaan! Demi Tuhan!

"Mungkinkah ini cinta?"
"Tapi mungkin ini juga donat!"

Sesungguhnya tak ada waktu yang tepat daripada saat ini. Melankoli ini sudah terlalu panjang dan meresahkan, mengalahkan episode-episode sinetron yang paling membosankan dan mengada-ada. Aku ingin mengantarkan rasa ini ke tepi tebing yang tinggi dan membiarkannya bunuh diri.

Segera.

No comments:

Post a Comment