ingatan akanmu merayap bersama cerita yang sedih
dan rindu yang pedih.
kita beranjak tua
dan kelak
tulang-tulang kita merapuh dan luruh bersama kota
dengan lampu-lampunya yang kian kusam
dan orang-orangnya yang kian bebal
seperti perjalanan kita di suatu malam yang singkat
suatu malam yang bebal
suatu malam yang meretakkan jantungku
hingga lantak dan berserak
di samping rusukmu.
inginnya tak aku akui, dan tak ingin kuratifikasi
pakta-pakta atas fakta-fakta
bahwasanya setelah bel besar itu berdentang dalam subuh yang
tak kita rencanakan
aku tak ingin kau di sini
walau wajahmu adalah satu-satunya
yang kukenali
dalam penat
dalam sungguh
dalam luruh
hingga kita menghilang dimakan pagi.
Jakarta, beberapabelas april
duaribukamu.