Friday, November 23, 2012

Sensivera



Setiap kali melihat tanaman sensivera, saya selalu teringat ibu saya. Sejak 5 tahun terakhir, ibu mengoleksi 10 jenis sensivera di rumah. Tidak seperti tanaman hias lainnya, sensivera berbentuk unik; ia tak berbatang, bisa tumbuh sampai 1 meter, struktur daunnya kaku, berwarna hijau kusam atau merah kusam dan berujung lancip. Seperti lidah. Dalam bahasa Indonesia, tanaman ini disebut lidah mertua.  

Alasan pertama ibu menyukai tanaman ini karena sensivera mempunyai kemampuan menyerap racun dan radiasi lebih besar daripada tanaman lain. Yang kedua, karena menurutnya ada misteri di balik jeleknya bentuk sensivera. 

Saya mencoba untuk menanamnya di rumah. Tidak bagus seperti sensivera ibu saya. Mungkin karena salah lokasi. Sensivera saya berada di bawah rindang pohon kamboja dan bambu jepang, sementara menurut ibu sensivera membutuhkan sinar matahari yang lumayan banyak dan tidak terlalu lembab. Alhasil setiap tanaman sensivera saya membusuk di tengah-tengah. Jelek sekali.


Kadang-kadang Ibu berkunjung ke kebun tanaman milik dr. Purbo, pemenang kontes sensivera internasional, yang terletak di Desa Pancawati, Ciawi. Di sana, dia memilih jenis yang bentuknya paling jelek dan setengah rusak. Beberapa minggu kemudian, saya akan menemukan si sensivera jelek itu bertengger di depan pintu rumah ibu. Besar. Indah. Seperti tombak, bukan lidah.


Memandangi sensivera, saya percaya bahwa keindahan memerlukan kesabaran.Dan saya tahu dan selalu percaya, ibu saya adalah orang yang sangat sangat sabar.

No comments:

Post a Comment