Friday, April 20, 2012

setelah dua gelas kopi


ingatan akanmu merayap bersama cerita yang sedih 

dan rindu yang pedih.

kita beranjak tua

dan kelak

tulang-tulang kita merapuh dan luruh bersama kota

dengan lampu-lampunya yang kian kusam

dan orang-orangnya yang kian bebal

seperti perjalanan kita di suatu malam yang singkat

suatu malam yang bebal

suatu malam yang meretakkan jantungku

hingga lantak dan berserak

di samping rusukmu.

inginnya tak aku akui, dan tak ingin kuratifikasi

pakta-pakta atas fakta-fakta

bahwasanya setelah bel besar itu berdentang dalam subuh yang tak kita rencanakan

aku tak ingin kau di sini

walau wajahmu adalah satu-satunya

yang kukenali

dalam penat

dalam sungguh

dalam luruh

hingga kita menghilang dimakan pagi.






Jakarta, beberapabelas april duaribukamu.