Thursday, June 2, 2011

ke rumah ibu

mari kita ke rumah ibu, dik.
rumah ibu dimana?
di sana...
di mana?
di dekat pelangi kata siMbah
naik apa kita ke sana, kak?
naik kereta
tapi kita tak punya uang
kita kan anak kecil
tapi anak kecil harus bayar tiket
siapa bilang?
kondekturnya
kondekturnya kan bisa lihat kalau kita anak kecil
tapi kita tetap musti bayar
kata siapa?
kata loket tiket: anak kecil bayar setengah
tapi kan kita bertiga
ya jadi satu setengah tiket
tapi aku kan bukan anak kecil lagi
berarti dua tiket
tapi kita nggak punya uang
lalu bagaimana kita ke rumah ibu?
kita jalan kaki saja
kata kakak rumah ibu jauh...
ya nanti kita jalan pelan-pelan saja
kakak kan tidak bisa jalan pelan-pelan
bisa kok
kalau aku capek?
aku gendong
kalau kakak capek?
kita duduk dulu istirahat
nanti kita nggak sampai-sampai...
pasti sampai
kakak tahu tepatnya dimana rumah ibu?
tidak tahu
lho terus bagaimana kita sampai ke rumah ibu?
nanti tanya orang
memangnya orang-orang tahu ibu kita?
pasti tahu
memang ibu terkenal?
kurang tahu juga...
kalau ibu tidak terkenal bagaimana?
ya kita cari tahu
kalau kita tidak ketemu-ketemu juga?
ya kita pulang lagi
masa pulang lagi? jauh lagi dong kak?
ya sudah tidak usah pulang lagi
baiklah, tapi sekarang kita jalan kakinya ke arah mana?
ke sana
ke sana mana?
ikuti saja rel kereta
rel kereta nanti ujungnya ke rumah ibu?
iya
kalau ketemu laut bagaimana?
ya kita seberangi saja
memangnya di laut ada rel kereta?
harusnya ada
ooo di mana-mana ada kereta?
ada dong...
terus terus kalau jalan ikuti rel kereta, bayar tiket juga nggak?
nggak bayar
nah, bagus itu! kalau begitu kita jalan sekarang kak!
kok sekarang?
iya, biar cepat sampai!
tapi kan sekarang sudah malam
oh iya, ibu sudah bobok ya...
iya, kamu juga harus bobok, dik...
oke! kalau gitu aku duluan ya kak...
duluan ke mana?
ke rumah ibu
katanya mau bobok?
iya, aku bobok terus aku mau mimpi ke rumah ibu.
baiklah. salam buat ibu ya? bilang besok kita ke sana
oke, kak! kalau ada petugas tibum, bangunkan aku ya kak...
iya nanti kamu kakak gendong
aku sayang kakak!

Saturday, May 21, 2011

sebenarnya kamu tidak pernah mati

kami telah menguburmu, sayang, tapi tidak dengan kenangan itu. karena kenangan adalah roh yang sesungguhnya. kenangan adalah bekas-bekas waktu yang dilewati tubuhmu, begitu dalam dan lindap. di sana ada senyum dan tangis. tawa dan amarah. atau nanar. atau yang biasa-biasa saja. dan setiap titik senyum, tangis, tawa, amarah dan lain-lain itu telah membentuk sebuah pola. pola kenangan itulah. yang nantinya - saat aku tak lagi bersedih tentu saja - akan kujahit dengan kenanganku sendiri. mungkin saat itu aku akan menangis. mungkin juga aku akan tertawa. atau biasa-biasa saja. yang jelas, aku tahu pasti, bahwa sebenarnya kamu tidak pernah mati.

kami memang menguburmu, sayang. tapi tidak kenangan itu. ia terus berbunga di kebun cintaku.



*untuk orang-orang yang pergi minggu ini...

Thursday, March 10, 2011

kata dasar

Me : "Dis, sibuk gak?

Gadis: "nggak."

Me: "boleh tanya gak?"

Gadis: "boleh."

Me: "Bener nih boleh?"

Gadis: "Ikh...." (sambil mengernyitkan dahi dan melotot sinis)

Me: "kata dasarnya mengelabui apa sih?"

Gadis: ......... (sambil ngeklik-ngeklik mouse komputer)

Me: "Dis......jawap dongs..."

Gadis: "tauk ah! nanyanya aneh-aneh aja!"

Me: "yeee... gak aneh ini..."

Gadis: "udah ah, sibuk nih!"

Me: "katanya tadi nggak..."

Gadis: "udah aaaahhhhhh, mbak in ngobrol ama mama aja!"

Me: "huw... bilang aja nggak tau..."

Gadis: "AKU TAU KOK! cuma males aja jawabnya..."

Me: "Ngeles..."

Gadis: "NGGAK!"

Me: "Payah..."

Gadis: "Kalo mbak in tau ya gak usah nanya!"

Me: "Aku gak tauuuuu... makanya aku nanyaaaaaaaaa"

Gadis: "tapi kayak ngetest gituu!!" (mulai merengek)

Me: "yeee...emangnye kite guru... ngetest-ngetest..."

Gadis: "Mamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!"

Mama (dari luar kamar): "APAAN SIH! RIBUT AJA!"

Me: "Maaahhh, kata dasarnya mengelabui apa? Anaknya gak bisa jawab nih!"

Mama: "LABU!"



(percakapan ini terjadi sekitar bulan september tahun 2008.)