Thursday, December 9, 2010

Winter Wonderland in Russia

Baru November pertengahan ketika saya berangkat ke Vladivostok, Russia Timur Jauh, tetapi ketika turun dari pesawat suhu menggigit di -3 derajat celcius. Saya langsung merapatkan jaket saya dan berlari menuju area imigrasi bandara internasional Vladivostok yang mungil. Ini winter pertama saya. Dan saya salah kostum. Jaket yang saya beli tidak berfungsi maksimal di sana. Ternyata memang salah total membeli jaket tebal di daerah tropis karena kalau dicoba ya pasti terasa hangat (walaupun di dalam ruangan ber-AC). Ternyata setelah dipakai di lokasi, langsung terbit rasa sesal di dalam hati karena menjadi orang tropis yang sotoy. Untunglah teman-teman dari WWF-Russia memberikan peserta bermacam-macam jaket lengkap dengan topi kupluk dan sarung tangannya. Bahkan kami bisa meminjam kaos kaki atau sepatu apabila sepatu kami tidak mempan dingin.

Dari kami tiba, yang ada di kepala saya hanya meyakinkan tubuh saya bahwa saya tidak akan sakit selama berada di sini. Saya sungguh khawatir dengan paru-paru saya. Dia agak lembek kalau berada di tempat dingin. Semakin hari suhu semakin mendingin karena mendekati awal musim dingin yang diramalkan akan menjadi sangat buruk waktu itu (dan benar-benar terjadi tak lama kami kembali ke tanah air).Setiap hari saya selalu berdoa supaya hari itu saya tidak bengek

hotel tempat tinggal saya terletak sedikit di luar kota Vladivostok

penampakan setiap pagi dari jendela kamar... lovely... :)
 
oh i love this... ini penunjuk toilet laki-laki dan perempuan di hotel saya.
 mereka pakai patung yang dibuat oleh Emilio 'something' yang kebetulan adalah perancang busana. :D

Suatu hari salju mencair, tapi juga tidak lebih hangat karena angin laut yang kencang sungguh membuat kami menderita. Suhu di kota Vladivostok jauh lebih dingin daripada di pedalaman karena angin laut itu. Vladivostok adalah kota pelabuhan teramai di kawasan Russia Far East. Kota ini termasuk dalam daftar kota terpolusi di Russia karena sejak dulu kota ini menjadi kota pelabuhan dan industri. Tapi setelah perang dingin usai, penduduk kota ini yang dulunya banyak berprofesi sebagai nelayan sudah tidak bisa melaut lagi karena tidak mendapatkan ikan dan industri pun perlahan-lahan mati karena tidak bisa bersaing dengan negara-negara tetangganya yaitu China, Jepang dan Korea Utara. Saat ini sebagian penduduknya berprofesi sebagai pedagang barang-barang dari China dan Jepang.


Vladivostok downtown. Walaupun tidak ada salju di sini, suhunya terasa jauh lebih dingin daripada tumpukan salju di bukit-bukit leopard.


Pemandangan kota Vladivostok dari Eagle's Nest, sebuah monumen di tengah kota Vladivostok yang bisa melihat kota ini 360 derajat.

Kota ini terletak di Provinsi Primorsky yang juga merupakan habitat satwa darat (terrestrial) dan laut (marine) yang penting seperti harimau, leopard, beruang, anjing laut, dan berbagai unggas yang bermigrasi di kawasan yang sangat cantik ini. Lambang kota ini pun harimau. Kebetulan saya juga sempat berkunjung ke habitat harimau siberia yang agak jauh dari Vladivostok. Suhu di habitat lebih dingin dari di kota, sekitar -10 sampai -14 derajat celcius, tapi karena tidak ada angin, saya cukup memakai jaket penghangat (thermal). Dan alhamdulillah saya baik-baik saja walaupun harus hiking di bukit bersalju. Yang bermasalah hanya sepatu saya yang basah karena terendam salju setebal 15 cm. Thanks to Russian buses, karena mereka mempunyai penghangat kaki yang bisa mengeringkan sepatu dan kaos kaki saat kami kembali ke Vladivostok. 

mendengarkan pemandu kami saat hiking di bukit bersalju habitat leopard di Kedrovaya.
  
Vladivostok juga dikenal sebagai kota militer. Kota ini sangat berjasa menjadi benteng pertahanan Russia dalam perang dengan Jepang dan China di akhir abad 19. Tapi sampai perang dingin, kota ini masih menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal perang Russia yang terkenal canggih-canggih itu. Bahkan di pinggir teluk, kita bisa melihat kapal-kapal perang itu parkir. Ketika berjalan-jalan di kota, saya dan seorang teman dari China bisa melihat kapal selam terpanjang yang pernah ada di dunia pada perang dunia II yang digunakan saat Russia melawan Nazi.


Submarine S-56 kebanggaan Russia yang digunakan pada perang dunia kedua. Kapal selam ini puanjaaang sekali sampai kamera saya nggak muat. Ini baru setengahnya, jadi kira-kira aja berapa panjangnya ya? Oh ya, submarine ini juga berfungsi sebagai museum di dalamnya.


Pengalaman "buruk" di sana buat saya adalah yang pertama soal makanan. Karena memasuki musim dingin, yang banyak tersedia adalah acar. Setiap makan, kami menemui acar. Hari pertama tentu masih 'penasaran' dengan rasa acar Russia, tapi di hari kedua rasa penasaran itu berubah perlahan-lahan menjadi tangis penasaran. "Kaga ada sayur laen apaaa?" begitu jeritan anak-anak Indonesia dan Asia Tenggara lainnya yang saya bawa. Ya maklum, kita ini termasuk bagian Asia yang mempunyai beragam makanan dan gurih pula. Sementara kami baru tahu bahwa orang Russia jarang makan makanan bergaram. Rasa asin dalam makanan mereka itu kebanyakan mereka dapatkan dari kaldu daging, tapi di meja makan mereka jarang sekali ada garam. Bahkan seorang mahasiswa Russia bilang bahwa seumur hidupnya, dia tidak pernah makan garam. Menurut teman saya, kemungkinan hal itu disebabkan makanan di Russia didominasi oleh daging-dagingan dan berkolesterol tinggi, sehingga ada kesadaran untuk tidak mengonsumsi garam.


Tapi di sepanjang acara makan kami, terlihat ada usaha dari teman-teman Russia untuk memanjakan tamu-tamu asia tenggara-nya dengan SAMBAL BOTOL. Agak kaget juga melihat sambal botol di meja makan kami (tapi tidak ada di meja makan grup acara lain di hotel itu). Sambalnya lumayan pedas seperti sambal botol yang dijual di Indonesia, walaupun tidak ada yang bisa menyaingi sambal belibis atau sambal lampung. Hehehe... Alhasil sambal sachetan yang saya bawa dari Jakarta pun tidak berguna. Saya menghabiskan 3 sambal botol dalam waktu seminggu demi memberikan 'rasa' dalam makanan saya. Teman saya sampai bilang: if this chilli were a man, i'm sure you'll marry him now because you're so addicted to it.

Saya sampai malu. :">
 
i want to marry the chilli bottle! :D


Tapi kejutan lain soal makanan adalah saat kami berkunjung ke Kedrovaya dan Orlinoe, dua kawasan habitat harimau dan leopard. Di sana, makanan yang disajikan sangat gurih dan penuh 'rasa'. Di Orlinoe, kami disediakan celeng panggang yang sangat lezat. Saya pernah trauma makan celeng di Jakarta karena baunya amis, tapi celeng panggang di Orlinoe benar-benar mewujudkan imajinasi saya tentang celeng panggangnya Obelix dan Asterix. Luar biasa lezatnya! Kalau tak salah saya menghabiskan sepiring tanpa tengok kiri kanan sampai ditertawai oleh dua mahasiswa Nepal yang vegetarian karena terlihat terlalu bersemangat.



mangkuk putih atas kiri: sejenis soup dengan mentega. mangkuk kanan atas: kentang bakar yang sangat enak. di atas piring: roti gandum, tomat yang dibubuhi wortel tumbuk dan olive, celeng panggang, dan salad timun dan selada dalam mayonaise. *slurp!*


Pengalaman lain di sana adalah belajar aksara Russia atau disebut cyrillic. Logika membacanya terbalik-balik dengan logika aksara latin. Setiap hari kita juga belajar kalimat-kalimat standar seperti spasiba (terima kasih), pakah (hello), dan dzastrusbu (cheers) dari mahasiswa-mahasiswa Russia. Ini penting bagi kami paling tidak untuk berinteraksi dengan orang kalau kami mau keluar hotel tanpa teman rusia. Selebihnya sungguh susah.

Cyrillic diambil dari nama penemunya yaitu St. Cyril yang bersama St. Methodius dari Yunani yang menjelajah Russia pada abad 9 untuk menyebarkan agama Kristen. Cyrillic tidak hanya dipakai di Russia, tapi juga di daerah Eropa timur lainnya. Dan di Vladivostok, kami diajak "bertemu" dengan dua orang yang berjasa membuat kami 'puyeng' itu. :D

 
Nah itulah St. Cyril dan St. Methodius. Patungnya dipasang sebagai monumen di Eagle's Eyes. Jadi mbah-mbah ini bisa melihat Vladivostok dari segala penjuru... heheheh....

banyak teman titip kaleng coca cola pakai aksara cyrillic,
tapi apa daya sekarang semuanya sudah bertuliskan coca-cola biasa. menurut teman saya: we're being americanized. :P

 
Russia sangat keranjingan pemuda berbakat. Pemerintah Russia bahkan sudah menyaring anak-anak terpintar dan terhebat sejak dini. Mereka tidak hanya pintar dalam ilmu alam dan sosial, tetapi juga pintar dalam olahraga. Nggak heran kan kalau prestasi olahraga mereka menakjubkan? Ternyata Pemerintah Russia juga mau repot untuk memfasilitasi anak-anak bangsa yang berbakat itu. Russia mempunyai 2 pusat pelatihan anak berbakat. Satu pusat pelatihan ada di Russia barat dekat Moskwa, dan satu lagi terletak di Russia Timur Jauh yaitu di Vladivostok. Letaknya hanya sekitar 30 menit dari hotel kami. Nama tempatnya: OKEAH (baca: Okean atau Ocean dalam bahasa Inggris), terletak persis di tepi sebuah teluk yang tenang dan cantik.

Tidak mudah untuk dipilih masuk ke camp ini. Hanya anak-anak yang highly-recommended yang bisa dimasukkan di sini. Mereka harus punya surat rekomendasi luar biasa dari sekolah atau bahkan pemerintah daerahnya masing-masing. Pemerintah Russia juga mengundang anak-anak terpintar dari negara-negara lain untuk ikut pelatihan di sini sebagai pecut untuk bisa lebih baik. Serius bener....

Lapangan bola di OKEAH berada di tepi laut. Kalau tim PSSI disuruh latihan di sini, pasti masuk Piala Dunia deh. :P

Di dalam OKEAH terdapat berbagai jenis gymnasium dan lapangan olahraga (olahraga semua musim), pusat pelatihan mesin otomotif (di dalamnya ada ruangan simulasi menyetir mobil. i think i need this machine!), dan juga berbagai camp musim panas yang bentuknya lucu-lucu sekali. Ada camp dolphin, camp tiger, dll.


 
ruang praktikum pelatihan otomotif

mesin simulasi setir mobil yang saat ini sangat saya butuhkan.... hiks... eh tapi benar-benar kayak belajar nyetir lho. bukan kayak dingdong... :D

 
Camp tiger yang imut..

Nah, kalau soal oleh-oleh, tidak ada yang lebih tepat membeli matryoska (nesting doll). Beda banget rasanya membeli matryoska di negara aslinya. Dimana-mana ada matryoska. Saya sampai pusing. Tapi menurut keterangan dari teman-teman Russia saya, agak 'basi' kalau beli oleh-oleh di Vladivostok. "It's simply because nothing to see in the city!" kata seorang teman dari Moskow. Beda kalau kita berkunjung ke St. Petersburg atau Moskow. Industri pariwisata di sana lebih maju. Kebanyakan orang yang pergi ke Provinsi Primorsky adalah orang-orang yang ingin berwisata alam. Provinsi ini sangat indah alamnya...di musim panas. Hehehe... Ya karena mau masuk musim dingin nasib saya cuma bisa lihat salju terus di mana-mana ditambah lansekap pohon kering kecokelatan dan kehitaman akhir musim gugur.

Pengen beli semuanyaaaa!! Saya penggemar matroyshka. Tapi di sana harga matroyshka mahal sekali. Akhirnya saya beli yang berukuran 25cm dengan motif folklore Russia. Sungguh cantik sekali!

Sehari sebelum kembali ke tanah air, salju kembali turun dan menutupi jalan di depan hotel setebal mata kaki. Suhu beranjak menuju -10 derajat celsius. Semuanya putih dan cantik sekali. Olga, teman saya, berkata bahwa kami sungguh beruntung karena prakiraan cuaca mengumumkan akan ada badai salju esok hari. (badai itu terjadi saat kami masih berada di dalam hotel transit Bandara Incheon Korea. Badai sangat kencang dan saat itu perbatasan Korea Utara dan Selatan sedang dilanda krisis).

last view before leaving Vladivostok... such a beautiful morning... :)


Walaupun dingin bukan main, tapi saya sempatkan untuk melakukan pembalasan besar-besaran pada para penyerang saya di perang bola salju hari sebelumnya. :) Russia, i'm in love... 

 

Di sebuah universitas Vladivostok, rombongan kami disambut lumayan meriah. Salah satunya adalah dengan berbagai lukisan harimau dari anak-anak yang berpartisipasi dalam Tiger Day, sebuah perayaan nasional di Primorsky untuk menghormati harimau. Si harimau pelangi ini adalah lukisan favorit saya.
  

Bukan, ini bukan kucing angora. ini murni kucing kampung yang berkeliaran di rumah-rumah di sana. Tapi bulu mereka sunggu tebal dan bulat-bulat. Gemes sekali. Hampir lupa kalau sebenarnya saya ini tidak suka kucing kampung. :D
   
 
sekelumit suasana sore di pojokan kota, orang-orang ngantri beli roti. saya ikut beli roti untuk dimakan kalau kami kelaparan malam-malam.  

 
salah satu pojok di hotel saya. cantik seperti di kartu natal.