Tuesday, August 3, 2010

kafir

di suatu siang, dua puluh tujuh tahun yang lalu, saya sedang bermain pasar-pasaran di bawah pohon jambu klutuk bersama beberapa orang teman. saya sedang mengulek tanah merah (sebagai sambel kacang) dicampur bunga pacar cina (sebagai bawang merah) dan menyajikannya di daun mangkok sebesar telapak tangan saya (sebagai piring) . saat itu sedang bulan puasa. saya, yang baru berusia lima tahun saat itu, sedang belajar puasa. saya tidak mengerti mengapa, tapi saya hanya menuruti saran ibu saya.

lalu seorang teman bertanya apakah saya akan puasa sampai sore. saya jawab 'tidak' dengan yakin. kenapa? tanya teman saya. karena saya tidak mau dan tidak kuat, saya bilang. nanti saja kalau sudah besar. itu juga yang dikatakan ayah saya.

lalu teman saya bertanya lagi apakah ibu saya ikut puasa? saya jawab 'tidak' dengan lantang. tapi teman saya tidak bertanya kenapa. dia hanya manggut-manggut lalu berkata: iya, sebab ibumu kafir.

saya ikut manggut-manggut.

kafir. kafir. saya baru dengar kata itu. agama apakah itu? nanti saya tanya sama ayah saya di rumah. sementara, saya mau buka puasa dan ulekan 'sambel kacang' ini sudah melebihi batas dan sudah mengotori teras tetangga saya. saya pun pamit dan berlari pulang.

petang harinya, ketika ayah saya pulang dari kantor dan berbuka puasa di rumah, saya bertanya: papaaa... kafir itu apa ya, paaa?

jawab ayah saya singkat: orang yang tidak percaya Tuhan.

saya diam dan berpikir (dengan gaya berpikir. tangan menopang dagu.) masa sih ibu saya orang yang tidak percaya Tuhan?

saya tanya lagi: papaaa... agamanya mama kafir bukan?

ayah saya hampir tersedak kopi. lalu setengah memelototi saya, dia minta saya mengulangi pertanyaan saya yang mulai agak takut melihat mata ayah saya yang membola: agamanya... mama... kafir... bukaaaaannn?

melihat wajah saya yang polos, ayah saya meredupkan matanya: dari mana kamu dengar itu?

saya bilang saya dengar dari teman-teman saya. kalau mama saya itu kafir. tapi saya bilang kalau kafir adalah orang yang tidak percaya Tuhan, berarti mama bukan kafir, karena mama rajin berdoa rosario di kamar apalagi kalau saya atau ayah sedang sakit. kalau orang tidak percaya Tuhan kan pasti dia tidak berdoa.

ayah saya tersenyum. setelah saya menghabiskan seluruh bubur sumsum, dia menyuruh saya belajar lalu cepat tidur.

di tempat tidur, saya kesal betul dengan teman-teman saya. gara-gara kafir, saya hampir dimarahi ayah saya.