Friday, June 11, 2010

ruang

Athari adalah anak sahabat saya. Usianya hampir 2 tahun. Baru beberapa bulan ini dia bisa berjalan. Sekarang dia sudah bisa berlari. Kalau pakai istilah saya: "Lagi senang-senangnya punya kaki". Kalau sedang on, dia akan memaksimalkan kaki-kakinya untuk berjalan. Dia tinggal di sebuah pemukiman padat di selatan Jakarta. Hampir tak ada ruang yang aman di luar rumah untuk ditapaki kaki-kaki kecilnya yang gembil dan gesit. Akhirnya ia terpaksa harus puas mengelilingi ruang tamu dan kamar-kamar yang ada di rumahnya.

Suatu hari saya mengajak Athari dan ibunya untuk bermain ke rumah ibu saya yang lumayan jauh di Bekasi. Orangtua saya tinggal di sebuah komplek suburban yang lumayan teratur. Jalanan di sekitar rumah orangtua saya pun lumayan rimbun. Di seberang rumah saya terdapat taman kecil yang tak terurus. Di taman itu pula didirikan sebuah bangunan semi permanen tempat ayah saya dan beberapa tetangga membina klub pingpong yang tak pernah absen mengadakan turnamen di setiap Agustusnya.
  


Athari tampak berbinar melihat jalan di depan rumah yang lumayan besar. Tak banyak mobil yang lalu lalang. Banyak anak kecil bermain sepeda atau berkejaran. Saat ibunya sedang makan, adik saya mengajaknya bermain di taman kecil di seberang rumah. Dia senang bukan main. Walaupun ada beberapa anak sedang bermain bola, dia tidak ikut. Dia hanya senang berlari-lari mengelilingi taman kecil itu sampai harus berganti baju dua kali. Bosan berlari, dia minta naik becak. Bosan naik becak, dia minta lari lagi. Akhirnya, setelah mandi, dia minta diajak jalan-jalan lagi. Saya mengajaknya jalan kaki mengelilingi satu blok sampai dia terlihat sudah teler dan siap dininabobokan.

Athari, seperti anak-anak seusianya, membutuhkan begitu banyak ruang. Bahkan kalau bisa, dia tak mau diberikan ruang. Karena ruang seperti ada batas. Dia ingin semesta, yang tak berbatas itu agar dia bisa berlari dan menggunakan seluruh tubuhnya sehidup-hidupnya. Untuk Athari, tidak ada kata privat. Semuanya publik. Semuanya harus bisa dijelajahi dengan merdeka. Tak ada jender. Tak ada kasta. Tak ada warna kulit. Kearifan batita inilah yang akhirnya dilihat kembali oleh filsuf-filsuf modern untuk mencari kemanusiaan yang sejati.
  
Suatu hari nanti, saat Athari menginjak remaja, dia akan melihat ruang. Dia akan membutuhkan ruang. Sebagian hidupnya menjadi privat. Terutama tubuhnya. Dia akan mengenal jender. Dia akan mengenal malu. Dia akan berubah-ubah sesuai rasa jaman yang akan ia lalui. Dia akan mempunyai cita rasa. Dia akan mempunyai nilai. Dia akan melebur bersama manusia-manusia lain yang juga telah berevolusi menuju dunia dewasa, dunia yang penuh dengan ruang.

Saat dewasa nanti, mungkin Athari sudah tak heran lagi melihat ruang-ruang itu. Semua batas itu bahkan menjadi previlese yang harus dibeli. Athari akan membeli rumah, membeli mobil, membeli lemari, membeli perusahaan, membeli tiket masuk tempat disko, membeli sekolah, membeli tempat bermain, membeli harddisk. Seperti milyaran manusia lain, dia akan berebut membeli ruang-ruang itu karena dia butuh menyimpan privasi. Menyimpan rahasia...

Di saat itu mungkin Athari akan melihat kaki-kakinya, yang tak lagi gembil. Kaki-kaki itu sudah berjalan ribuan kilometer, jutaan hari, dan puluhan tahun. Dia mungkin akan lupa, kemana kaki-kaki yang penasaran itu. Kaki-kaki yang tak melihat ruang. Ia akan terlelahkan oleh ruang-ruang privat dan neraka yang diciptakannya. Di saat itu, Athari akan menemukan sesuatu yang bernama bangku untuk duduk dan berpikir.
  





jakarta, 11 juni 2010.
Athari photos are taken by my brother, Dwi 'Ian' Wijayanto
Dedicated to Athari and his curious feet.

Thursday, June 3, 2010

sebentar saja

aku ingin melihat wajahmu sebentar saja,
saat bulan terbit dan melepaskan mimpi-mimpi.
di detik itu, aku ingin dunia berhenti begitu saja dan
mataku tak berkedip memandangmu
sebelum kau terbius malam dan
tak lagi ingat bagaimana tangis yang kemarin lewat.