Thursday, March 11, 2010

kemudian

kemudian telah menjadi abu, bongkah kayu itu. telah menghitam ia, peninggalan sebuah kelalaian yang kemudian akan dilupa oleh sejarah. padahal kayu itu pernah hijau, pernah rimbun, pernah menjadi satu dengan nafasmu. tapi tergeletaklah ia di sana, kini terlupakan, terkubur beribu ingatan.

kemudian telah menjadi retak, gading itu. lalu muncullah sebuah pembenaran di atasnya: tak ada manusia yang sempurna. dan kita melafalkannya sedari kecil, sampai mengalir kata-kata itu dalam urat-urat nadi kita, untuk menutupi rasa malu atau tidak mampu. dan kita membawanya, ke dalam pilar-pilar kekuasaan. dan kemudian, dipakai oleh ribuan buaya yang menyamar menjadi gajah.

kemudian telah menjadi bubur, sekuali padi itu. yang dipanen oleh keringat dan dimasak oleh harapan. tapi karena sebuah keputusan yang terlalu lama, atau mungkin terlalu pelik, maka melembek ia. bubur sekuali itu pun akan memutuskan selera. makan malam yang tak jadi atau makan pagi yang tersia-sia. karena sebenarnya kita ingin membuat ketupat.

kemudian telah menjadi sesal, pertanyaan itu. yang tak kau tanyakan, yang tak kau jawab. kemudian hening membekap mulut kita sampai arah memisahkan. sampai sakit tak terperikan. tak terbantahkan.

kemudian kau pun sendiri. lagi.


salam sayang,
Randu.

No comments:

Post a Comment