Saturday, March 20, 2010

pengamen

hampir seperti gerakan refleks dari alam bawah sadar pikiran yang jahat. ketika seorang pengamen terdengar dari tetangga sebelah, kita lantas mengendap-endap, mengecilkan suara televisi dan menutup pintu rumah (kadang-kadang lupa tutup jendela). lalu ketika si pengamen ternyata cukup keras kepala, kita akan berteriak tak kalah keras kepala: ORANGNYA GAK ADA! ADANYA KUCING!

oleh karena itu saya tekankan sekali lagi kepada kamu: saya bukan pengamen. saya cinta padamu.



salam sayang,
randu.

Friday, March 19, 2010

naek ojek

saya penggemar ojek. kemana-mana saya naik ojek, kalau nggak hujan. saya nggak tahan berlama-lama berada di dalam kendaraan roda empat saat melintasi jalanan Jakarta yang tiada beradab ini. dan sialnya, belum ada busway yang lewat tempat tinggal saya (woi, pak gubernur! itu kapan busway cawang-grogol beroperasi???). naik motor sendiri? no way. been there done that. peristiwa yang traumatis.

untungnya, di rumah yang sekarang, rumah saya dekat dengan pangkalan ojek. sialnya (eh boleh bilang sial gak ya?)... ojek yang mangkal di situ sudah tua-tua. bukannya jahat.... tapi nyawa saya juga berharga. bapak-bapak tua ini akan rebutan mengantar saya. saya hanya akan jatuh iba, dengan resiko sepanjang perjalanan saya akan sport jantung karena doi sering nggak liat kanan kiri atau kehilangan keseimbangan.

beberapa di antara mereka menawarkan jasa antar jemput via henpon. saya tolak tentu saja. dengan berbagai macam alasan. setengah dari alasan-alasan itu bohong. bohong sama orang tua. saya pasti masuk neraka. tapi mau bagaimana lagi. akhirnya kalau saya lagi muncul rasa iba, saya mau naik ojek mereka, tapi kalau saya lagi 'judes' saya nggak mau. daripada ngomel-ngomelin orang tua. itu namanya udah masuk neraka, terus dikeluarin lagi, terus dimasukin lagi, terus dikeluarin lagi... kayak teh celup.

akhirnya saya menemukan jalan keluar suatu pagi. saya belumlah sampai ke pangkalan ojek. seekor, eh, se...(se-apa hayo kalo ojek?)...ojek melintas. masih muda. saya langsung hinggap di jok belakang secepat kilat kayak tante-tante ketemu brondong seger. "mega kuningan, bang! cepet ya! udah telat nih!"

sesampainya di kantor, saya langsung inisiatif: nomor telpon abang ada? sini kasih saya! saya telpon besok! oke? oke? oke?

bodo amat lah dibilang tante-tante agresip juga.

Thursday, March 11, 2010

perempuan yang membelah bulan

di balik kepungan cemara, senja perlahan punah di depan mata. berlarik-larik, melukis jagad, lalu kelam.

di situ ia berdiri, perempuan itu, yang bersiap dengan pedang di tangannya. menanti di atas bukit yang tua. menanti bulan terbit di batas langit.

"aku ingin membunuh bulan" ujarnya parau disela angin yang berdesir risau. "akan kubuat ia banjir darah dan sekarat, sampai tuhan menyerah dan mempersembahkan air matanya kepadaku."

di balik kepungan cemara, aku melihatnya. perempuan yang merapal mantra-mantra, membelah bulan dan menguras air mata tuhan.




salam sayang,
Randu.

kemudian

kemudian telah menjadi abu, bongkah kayu itu. telah menghitam ia, peninggalan sebuah kelalaian yang kemudian akan dilupa oleh sejarah. padahal kayu itu pernah hijau, pernah rimbun, pernah menjadi satu dengan nafasmu. tapi tergeletaklah ia di sana, kini terlupakan, terkubur beribu ingatan.

kemudian telah menjadi retak, gading itu. lalu muncullah sebuah pembenaran di atasnya: tak ada manusia yang sempurna. dan kita melafalkannya sedari kecil, sampai mengalir kata-kata itu dalam urat-urat nadi kita, untuk menutupi rasa malu atau tidak mampu. dan kita membawanya, ke dalam pilar-pilar kekuasaan. dan kemudian, dipakai oleh ribuan buaya yang menyamar menjadi gajah.

kemudian telah menjadi bubur, sekuali padi itu. yang dipanen oleh keringat dan dimasak oleh harapan. tapi karena sebuah keputusan yang terlalu lama, atau mungkin terlalu pelik, maka melembek ia. bubur sekuali itu pun akan memutuskan selera. makan malam yang tak jadi atau makan pagi yang tersia-sia. karena sebenarnya kita ingin membuat ketupat.

kemudian telah menjadi sesal, pertanyaan itu. yang tak kau tanyakan, yang tak kau jawab. kemudian hening membekap mulut kita sampai arah memisahkan. sampai sakit tak terperikan. tak terbantahkan.

kemudian kau pun sendiri. lagi.


salam sayang,
Randu.

hujan tidak turun hari ini

hujan tidak turun hari ini
ujar katak kepada puteri
tapi siapkan saja busur dan panah
tembakkan ke awan
agar dia tahu
bagaimana sakitnya
menanti.

Tuesday, March 9, 2010

Atun #3

Atun : Mbak, wingi pas plentin, suami nyong bilang gini "Tun, kamu itu adalah cinta pertamaku. dan yang terakhir.

Saya : ciyeee... prikitiw..! trus mbak jawab apa?

Atun: PREEETTTTTT!!!! Hoahahahaha! (dengan tawa kuntilanak)

Saya : ???

Atun #2

suami saya minta ijin jadi supir taksi ora saya kasih, mbak. ntar dia jadi ngganteng, pake hem sama pantalon. rapi jali. janganlah, mbak. ntar bisa main gilak sama wadon liyane... mengko iso ta' pateni! wis dadi supir bajaj wae'. pating cemang-cemong gemuk ya ora apa-apa!

Atun #1

saya dulu pernah ikut preman pasar senen, mbak. orangnya sardis tapi konpormis. pernah ngerampok toko emas, tapi dibagi-bagiin sama orang miskin. kayak rodin wut itulah mbak. tenane'!