Thursday, December 9, 2010

Winter Wonderland in Russia

Baru November pertengahan ketika saya berangkat ke Vladivostok, Russia Timur Jauh, tetapi ketika turun dari pesawat suhu menggigit di -3 derajat celcius. Saya langsung merapatkan jaket saya dan berlari menuju area imigrasi bandara internasional Vladivostok yang mungil. Ini winter pertama saya. Dan saya salah kostum. Jaket yang saya beli tidak berfungsi maksimal di sana. Ternyata memang salah total membeli jaket tebal di daerah tropis karena kalau dicoba ya pasti terasa hangat (walaupun di dalam ruangan ber-AC). Ternyata setelah dipakai di lokasi, langsung terbit rasa sesal di dalam hati karena menjadi orang tropis yang sotoy. Untunglah teman-teman dari WWF-Russia memberikan peserta bermacam-macam jaket lengkap dengan topi kupluk dan sarung tangannya. Bahkan kami bisa meminjam kaos kaki atau sepatu apabila sepatu kami tidak mempan dingin.

Dari kami tiba, yang ada di kepala saya hanya meyakinkan tubuh saya bahwa saya tidak akan sakit selama berada di sini. Saya sungguh khawatir dengan paru-paru saya. Dia agak lembek kalau berada di tempat dingin. Semakin hari suhu semakin mendingin karena mendekati awal musim dingin yang diramalkan akan menjadi sangat buruk waktu itu (dan benar-benar terjadi tak lama kami kembali ke tanah air).Setiap hari saya selalu berdoa supaya hari itu saya tidak bengek

hotel tempat tinggal saya terletak sedikit di luar kota Vladivostok

penampakan setiap pagi dari jendela kamar... lovely... :)
 
oh i love this... ini penunjuk toilet laki-laki dan perempuan di hotel saya.
 mereka pakai patung yang dibuat oleh Emilio 'something' yang kebetulan adalah perancang busana. :D

Suatu hari salju mencair, tapi juga tidak lebih hangat karena angin laut yang kencang sungguh membuat kami menderita. Suhu di kota Vladivostok jauh lebih dingin daripada di pedalaman karena angin laut itu. Vladivostok adalah kota pelabuhan teramai di kawasan Russia Far East. Kota ini termasuk dalam daftar kota terpolusi di Russia karena sejak dulu kota ini menjadi kota pelabuhan dan industri. Tapi setelah perang dingin usai, penduduk kota ini yang dulunya banyak berprofesi sebagai nelayan sudah tidak bisa melaut lagi karena tidak mendapatkan ikan dan industri pun perlahan-lahan mati karena tidak bisa bersaing dengan negara-negara tetangganya yaitu China, Jepang dan Korea Utara. Saat ini sebagian penduduknya berprofesi sebagai pedagang barang-barang dari China dan Jepang.


Vladivostok downtown. Walaupun tidak ada salju di sini, suhunya terasa jauh lebih dingin daripada tumpukan salju di bukit-bukit leopard.


Pemandangan kota Vladivostok dari Eagle's Nest, sebuah monumen di tengah kota Vladivostok yang bisa melihat kota ini 360 derajat.

Kota ini terletak di Provinsi Primorsky yang juga merupakan habitat satwa darat (terrestrial) dan laut (marine) yang penting seperti harimau, leopard, beruang, anjing laut, dan berbagai unggas yang bermigrasi di kawasan yang sangat cantik ini. Lambang kota ini pun harimau. Kebetulan saya juga sempat berkunjung ke habitat harimau siberia yang agak jauh dari Vladivostok. Suhu di habitat lebih dingin dari di kota, sekitar -10 sampai -14 derajat celcius, tapi karena tidak ada angin, saya cukup memakai jaket penghangat (thermal). Dan alhamdulillah saya baik-baik saja walaupun harus hiking di bukit bersalju. Yang bermasalah hanya sepatu saya yang basah karena terendam salju setebal 15 cm. Thanks to Russian buses, karena mereka mempunyai penghangat kaki yang bisa mengeringkan sepatu dan kaos kaki saat kami kembali ke Vladivostok. 

mendengarkan pemandu kami saat hiking di bukit bersalju habitat leopard di Kedrovaya.
  
Vladivostok juga dikenal sebagai kota militer. Kota ini sangat berjasa menjadi benteng pertahanan Russia dalam perang dengan Jepang dan China di akhir abad 19. Tapi sampai perang dingin, kota ini masih menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal perang Russia yang terkenal canggih-canggih itu. Bahkan di pinggir teluk, kita bisa melihat kapal-kapal perang itu parkir. Ketika berjalan-jalan di kota, saya dan seorang teman dari China bisa melihat kapal selam terpanjang yang pernah ada di dunia pada perang dunia II yang digunakan saat Russia melawan Nazi.


Submarine S-56 kebanggaan Russia yang digunakan pada perang dunia kedua. Kapal selam ini puanjaaang sekali sampai kamera saya nggak muat. Ini baru setengahnya, jadi kira-kira aja berapa panjangnya ya? Oh ya, submarine ini juga berfungsi sebagai museum di dalamnya.


Pengalaman "buruk" di sana buat saya adalah yang pertama soal makanan. Karena memasuki musim dingin, yang banyak tersedia adalah acar. Setiap makan, kami menemui acar. Hari pertama tentu masih 'penasaran' dengan rasa acar Russia, tapi di hari kedua rasa penasaran itu berubah perlahan-lahan menjadi tangis penasaran. "Kaga ada sayur laen apaaa?" begitu jeritan anak-anak Indonesia dan Asia Tenggara lainnya yang saya bawa. Ya maklum, kita ini termasuk bagian Asia yang mempunyai beragam makanan dan gurih pula. Sementara kami baru tahu bahwa orang Russia jarang makan makanan bergaram. Rasa asin dalam makanan mereka itu kebanyakan mereka dapatkan dari kaldu daging, tapi di meja makan mereka jarang sekali ada garam. Bahkan seorang mahasiswa Russia bilang bahwa seumur hidupnya, dia tidak pernah makan garam. Menurut teman saya, kemungkinan hal itu disebabkan makanan di Russia didominasi oleh daging-dagingan dan berkolesterol tinggi, sehingga ada kesadaran untuk tidak mengonsumsi garam.


Tapi di sepanjang acara makan kami, terlihat ada usaha dari teman-teman Russia untuk memanjakan tamu-tamu asia tenggara-nya dengan SAMBAL BOTOL. Agak kaget juga melihat sambal botol di meja makan kami (tapi tidak ada di meja makan grup acara lain di hotel itu). Sambalnya lumayan pedas seperti sambal botol yang dijual di Indonesia, walaupun tidak ada yang bisa menyaingi sambal belibis atau sambal lampung. Hehehe... Alhasil sambal sachetan yang saya bawa dari Jakarta pun tidak berguna. Saya menghabiskan 3 sambal botol dalam waktu seminggu demi memberikan 'rasa' dalam makanan saya. Teman saya sampai bilang: if this chilli were a man, i'm sure you'll marry him now because you're so addicted to it.

Saya sampai malu. :">
 
i want to marry the chilli bottle! :D


Tapi kejutan lain soal makanan adalah saat kami berkunjung ke Kedrovaya dan Orlinoe, dua kawasan habitat harimau dan leopard. Di sana, makanan yang disajikan sangat gurih dan penuh 'rasa'. Di Orlinoe, kami disediakan celeng panggang yang sangat lezat. Saya pernah trauma makan celeng di Jakarta karena baunya amis, tapi celeng panggang di Orlinoe benar-benar mewujudkan imajinasi saya tentang celeng panggangnya Obelix dan Asterix. Luar biasa lezatnya! Kalau tak salah saya menghabiskan sepiring tanpa tengok kiri kanan sampai ditertawai oleh dua mahasiswa Nepal yang vegetarian karena terlihat terlalu bersemangat.



mangkuk putih atas kiri: sejenis soup dengan mentega. mangkuk kanan atas: kentang bakar yang sangat enak. di atas piring: roti gandum, tomat yang dibubuhi wortel tumbuk dan olive, celeng panggang, dan salad timun dan selada dalam mayonaise. *slurp!*


Pengalaman lain di sana adalah belajar aksara Russia atau disebut cyrillic. Logika membacanya terbalik-balik dengan logika aksara latin. Setiap hari kita juga belajar kalimat-kalimat standar seperti spasiba (terima kasih), pakah (hello), dan dzastrusbu (cheers) dari mahasiswa-mahasiswa Russia. Ini penting bagi kami paling tidak untuk berinteraksi dengan orang kalau kami mau keluar hotel tanpa teman rusia. Selebihnya sungguh susah.

Cyrillic diambil dari nama penemunya yaitu St. Cyril yang bersama St. Methodius dari Yunani yang menjelajah Russia pada abad 9 untuk menyebarkan agama Kristen. Cyrillic tidak hanya dipakai di Russia, tapi juga di daerah Eropa timur lainnya. Dan di Vladivostok, kami diajak "bertemu" dengan dua orang yang berjasa membuat kami 'puyeng' itu. :D

 
Nah itulah St. Cyril dan St. Methodius. Patungnya dipasang sebagai monumen di Eagle's Eyes. Jadi mbah-mbah ini bisa melihat Vladivostok dari segala penjuru... heheheh....

banyak teman titip kaleng coca cola pakai aksara cyrillic,
tapi apa daya sekarang semuanya sudah bertuliskan coca-cola biasa. menurut teman saya: we're being americanized. :P

 
Russia sangat keranjingan pemuda berbakat. Pemerintah Russia bahkan sudah menyaring anak-anak terpintar dan terhebat sejak dini. Mereka tidak hanya pintar dalam ilmu alam dan sosial, tetapi juga pintar dalam olahraga. Nggak heran kan kalau prestasi olahraga mereka menakjubkan? Ternyata Pemerintah Russia juga mau repot untuk memfasilitasi anak-anak bangsa yang berbakat itu. Russia mempunyai 2 pusat pelatihan anak berbakat. Satu pusat pelatihan ada di Russia barat dekat Moskwa, dan satu lagi terletak di Russia Timur Jauh yaitu di Vladivostok. Letaknya hanya sekitar 30 menit dari hotel kami. Nama tempatnya: OKEAH (baca: Okean atau Ocean dalam bahasa Inggris), terletak persis di tepi sebuah teluk yang tenang dan cantik.

Tidak mudah untuk dipilih masuk ke camp ini. Hanya anak-anak yang highly-recommended yang bisa dimasukkan di sini. Mereka harus punya surat rekomendasi luar biasa dari sekolah atau bahkan pemerintah daerahnya masing-masing. Pemerintah Russia juga mengundang anak-anak terpintar dari negara-negara lain untuk ikut pelatihan di sini sebagai pecut untuk bisa lebih baik. Serius bener....

Lapangan bola di OKEAH berada di tepi laut. Kalau tim PSSI disuruh latihan di sini, pasti masuk Piala Dunia deh. :P

Di dalam OKEAH terdapat berbagai jenis gymnasium dan lapangan olahraga (olahraga semua musim), pusat pelatihan mesin otomotif (di dalamnya ada ruangan simulasi menyetir mobil. i think i need this machine!), dan juga berbagai camp musim panas yang bentuknya lucu-lucu sekali. Ada camp dolphin, camp tiger, dll.


 
ruang praktikum pelatihan otomotif

mesin simulasi setir mobil yang saat ini sangat saya butuhkan.... hiks... eh tapi benar-benar kayak belajar nyetir lho. bukan kayak dingdong... :D

 
Camp tiger yang imut..

Nah, kalau soal oleh-oleh, tidak ada yang lebih tepat membeli matryoska (nesting doll). Beda banget rasanya membeli matryoska di negara aslinya. Dimana-mana ada matryoska. Saya sampai pusing. Tapi menurut keterangan dari teman-teman Russia saya, agak 'basi' kalau beli oleh-oleh di Vladivostok. "It's simply because nothing to see in the city!" kata seorang teman dari Moskow. Beda kalau kita berkunjung ke St. Petersburg atau Moskow. Industri pariwisata di sana lebih maju. Kebanyakan orang yang pergi ke Provinsi Primorsky adalah orang-orang yang ingin berwisata alam. Provinsi ini sangat indah alamnya...di musim panas. Hehehe... Ya karena mau masuk musim dingin nasib saya cuma bisa lihat salju terus di mana-mana ditambah lansekap pohon kering kecokelatan dan kehitaman akhir musim gugur.

Pengen beli semuanyaaaa!! Saya penggemar matroyshka. Tapi di sana harga matroyshka mahal sekali. Akhirnya saya beli yang berukuran 25cm dengan motif folklore Russia. Sungguh cantik sekali!

Sehari sebelum kembali ke tanah air, salju kembali turun dan menutupi jalan di depan hotel setebal mata kaki. Suhu beranjak menuju -10 derajat celsius. Semuanya putih dan cantik sekali. Olga, teman saya, berkata bahwa kami sungguh beruntung karena prakiraan cuaca mengumumkan akan ada badai salju esok hari. (badai itu terjadi saat kami masih berada di dalam hotel transit Bandara Incheon Korea. Badai sangat kencang dan saat itu perbatasan Korea Utara dan Selatan sedang dilanda krisis).

last view before leaving Vladivostok... such a beautiful morning... :)


Walaupun dingin bukan main, tapi saya sempatkan untuk melakukan pembalasan besar-besaran pada para penyerang saya di perang bola salju hari sebelumnya. :) Russia, i'm in love... 

 

Di sebuah universitas Vladivostok, rombongan kami disambut lumayan meriah. Salah satunya adalah dengan berbagai lukisan harimau dari anak-anak yang berpartisipasi dalam Tiger Day, sebuah perayaan nasional di Primorsky untuk menghormati harimau. Si harimau pelangi ini adalah lukisan favorit saya.
  

Bukan, ini bukan kucing angora. ini murni kucing kampung yang berkeliaran di rumah-rumah di sana. Tapi bulu mereka sunggu tebal dan bulat-bulat. Gemes sekali. Hampir lupa kalau sebenarnya saya ini tidak suka kucing kampung. :D
   
 
sekelumit suasana sore di pojokan kota, orang-orang ngantri beli roti. saya ikut beli roti untuk dimakan kalau kami kelaparan malam-malam.  

 
salah satu pojok di hotel saya. cantik seperti di kartu natal.








Sunday, November 14, 2010

our new family member


we got new puppy yesterday from our beloved friend.
it's a male puppy.
we named him Tole. 
he's such a cute puppy. 




jangan nakal ya Le... 






Friday, October 22, 2010

the babis, the kambings and the sapis.

Percakapan di bawah adalah sekelumit suasana rapat kami saat meeting setiap senin di kantor ACF-Soe yang selalu saya rindukan. :)


O : so, Alfred... ready to give your last week's work report?
A : yes... eee.... i check some villages...eee...that our babis is gone.
O : gone? what do you mean by gone?
A : yes... gone... gone, sir... is dead!
O : aahh... yes. oh no! they're all dead? how many left?
A : eee... according to our babi groups, only 8 babis left...
O : WHAT? out of 40?! what happened to all those pigs??!
A : definitely babi voodoo, sir...

*silent for 3 seconds*

*LOL!*

O : ok... ok... enough... voodoo, eh? do you believe that, alfred?
A : according to the villagers, sir... it's babi voodoo

*LOL!*

O : how about the kambing? (starting to follow Alfred)
Us: Kambings, Obie... plural..
O : oh yes, kambings... how about them?
A : Dead too, sir!
O : don't tell me that the SAPIS are dead too, alfred!
A : the sapis is only one..
O : ONLY ONE LEFT? GOSH!!
A : noooooo..... only one dead, sir... relax... relax...
O : good lord... i'm just survived from malaria but then these livestock news would definitely bring me back to the hospital's bed...



Monday, October 18, 2010

my life is dull...


so i beg You please, Lord... 
teach me how to sew... :'(








Amen.




Tuesday, August 3, 2010

kafir

di suatu siang, dua puluh tujuh tahun yang lalu, saya sedang bermain pasar-pasaran di bawah pohon jambu klutuk bersama beberapa orang teman. saya sedang mengulek tanah merah (sebagai sambel kacang) dicampur bunga pacar cina (sebagai bawang merah) dan menyajikannya di daun mangkok sebesar telapak tangan saya (sebagai piring) . saat itu sedang bulan puasa. saya, yang baru berusia lima tahun saat itu, sedang belajar puasa. saya tidak mengerti mengapa, tapi saya hanya menuruti saran ibu saya.

lalu seorang teman bertanya apakah saya akan puasa sampai sore. saya jawab 'tidak' dengan yakin. kenapa? tanya teman saya. karena saya tidak mau dan tidak kuat, saya bilang. nanti saja kalau sudah besar. itu juga yang dikatakan ayah saya.

lalu teman saya bertanya lagi apakah ibu saya ikut puasa? saya jawab 'tidak' dengan lantang. tapi teman saya tidak bertanya kenapa. dia hanya manggut-manggut lalu berkata: iya, sebab ibumu kafir.

saya ikut manggut-manggut.

kafir. kafir. saya baru dengar kata itu. agama apakah itu? nanti saya tanya sama ayah saya di rumah. sementara, saya mau buka puasa dan ulekan 'sambel kacang' ini sudah melebihi batas dan sudah mengotori teras tetangga saya. saya pun pamit dan berlari pulang.

petang harinya, ketika ayah saya pulang dari kantor dan berbuka puasa di rumah, saya bertanya: papaaa... kafir itu apa ya, paaa?

jawab ayah saya singkat: orang yang tidak percaya Tuhan.

saya diam dan berpikir (dengan gaya berpikir. tangan menopang dagu.) masa sih ibu saya orang yang tidak percaya Tuhan?

saya tanya lagi: papaaa... agamanya mama kafir bukan?

ayah saya hampir tersedak kopi. lalu setengah memelototi saya, dia minta saya mengulangi pertanyaan saya yang mulai agak takut melihat mata ayah saya yang membola: agamanya... mama... kafir... bukaaaaannn?

melihat wajah saya yang polos, ayah saya meredupkan matanya: dari mana kamu dengar itu?

saya bilang saya dengar dari teman-teman saya. kalau mama saya itu kafir. tapi saya bilang kalau kafir adalah orang yang tidak percaya Tuhan, berarti mama bukan kafir, karena mama rajin berdoa rosario di kamar apalagi kalau saya atau ayah sedang sakit. kalau orang tidak percaya Tuhan kan pasti dia tidak berdoa.

ayah saya tersenyum. setelah saya menghabiskan seluruh bubur sumsum, dia menyuruh saya belajar lalu cepat tidur.

di tempat tidur, saya kesal betul dengan teman-teman saya. gara-gara kafir, saya hampir dimarahi ayah saya.

Saturday, July 31, 2010

tigers! tigers! tigers!

I MISSED MY BLOG!

GOSH! I feel like i want to kiss my monitor! Mwah! Mwah! Mwah! Missed you so much!

OK. What have i been doing since June 11...?

Let me see... errr.... Work? Busy to grow older? Hehehe...

For the past couple of months, i've been busy preparing Pre-Tiger Summit Meeting in Bali on July 2010. It was a regional staff meeting of 13 governments and NGOs on tigers.They are preparing some governmental commitment to save the world tigers and their habitats and planning to declare it on the big Tiger Summit in St. Petersburg next November.

It was a really really tiring meeting and event. Well, at least for me. I had to run around on my heels and hurt my feet so bad. After the meeting was over, i couldn't even feel my toes for several days. Bad. Really...really bad. I prefer to hike all over Bukit Barisan Selatan forests than 10 minutes running on my 2,5 inches heels! Seriously!

But it went well after all. I got a chance to do some major shopping WITHOUT my cards! I'm proud of myself. And i got a chance to meet my colleagues from WWF Network offices all over the world. It was so great meeting those guys. And I'm looking forward to work with them again in the future.

After the pre-summit, i had to prepare another event. We have to choose two youth tiger ambassador to go to Youth Tiger Summit in Russia. It was very interesting process. We opened for applications for two weeks. 6 finalists were chosen and 2 of them were successful to be the ambassadors. Both ambassadors are GIRLS! Yay! They are really good, I'll tell you that! They are very experienced yet smart college students with a LOT better English than mine. I wanted to drawn myself to the Dead Sea. How embarrassing.

However, it would be really nice to go overseas with them and to do some campaigns to save the tigers. You should too, by the way! Help us to save the tigers by not buying ANYTHING...ANYTHING made out of their body.

(c) WWF-Indonesia/Maureen Nathalie. this nice tiger painting was made and donated for WWF by Maureen Nathalie from Global Art Bintaro. This painting was exhibited at Pre-Tiger Summit Meeting in Nusa Dua, Bali, July 2010.




Friday, June 11, 2010

ruang

Athari adalah anak sahabat saya. Usianya hampir 2 tahun. Baru beberapa bulan ini dia bisa berjalan. Sekarang dia sudah bisa berlari. Kalau pakai istilah saya: "Lagi senang-senangnya punya kaki". Kalau sedang on, dia akan memaksimalkan kaki-kakinya untuk berjalan. Dia tinggal di sebuah pemukiman padat di selatan Jakarta. Hampir tak ada ruang yang aman di luar rumah untuk ditapaki kaki-kaki kecilnya yang gembil dan gesit. Akhirnya ia terpaksa harus puas mengelilingi ruang tamu dan kamar-kamar yang ada di rumahnya.

Suatu hari saya mengajak Athari dan ibunya untuk bermain ke rumah ibu saya yang lumayan jauh di Bekasi. Orangtua saya tinggal di sebuah komplek suburban yang lumayan teratur. Jalanan di sekitar rumah orangtua saya pun lumayan rimbun. Di seberang rumah saya terdapat taman kecil yang tak terurus. Di taman itu pula didirikan sebuah bangunan semi permanen tempat ayah saya dan beberapa tetangga membina klub pingpong yang tak pernah absen mengadakan turnamen di setiap Agustusnya.
  


Athari tampak berbinar melihat jalan di depan rumah yang lumayan besar. Tak banyak mobil yang lalu lalang. Banyak anak kecil bermain sepeda atau berkejaran. Saat ibunya sedang makan, adik saya mengajaknya bermain di taman kecil di seberang rumah. Dia senang bukan main. Walaupun ada beberapa anak sedang bermain bola, dia tidak ikut. Dia hanya senang berlari-lari mengelilingi taman kecil itu sampai harus berganti baju dua kali. Bosan berlari, dia minta naik becak. Bosan naik becak, dia minta lari lagi. Akhirnya, setelah mandi, dia minta diajak jalan-jalan lagi. Saya mengajaknya jalan kaki mengelilingi satu blok sampai dia terlihat sudah teler dan siap dininabobokan.

Athari, seperti anak-anak seusianya, membutuhkan begitu banyak ruang. Bahkan kalau bisa, dia tak mau diberikan ruang. Karena ruang seperti ada batas. Dia ingin semesta, yang tak berbatas itu agar dia bisa berlari dan menggunakan seluruh tubuhnya sehidup-hidupnya. Untuk Athari, tidak ada kata privat. Semuanya publik. Semuanya harus bisa dijelajahi dengan merdeka. Tak ada jender. Tak ada kasta. Tak ada warna kulit. Kearifan batita inilah yang akhirnya dilihat kembali oleh filsuf-filsuf modern untuk mencari kemanusiaan yang sejati.
  
Suatu hari nanti, saat Athari menginjak remaja, dia akan melihat ruang. Dia akan membutuhkan ruang. Sebagian hidupnya menjadi privat. Terutama tubuhnya. Dia akan mengenal jender. Dia akan mengenal malu. Dia akan berubah-ubah sesuai rasa jaman yang akan ia lalui. Dia akan mempunyai cita rasa. Dia akan mempunyai nilai. Dia akan melebur bersama manusia-manusia lain yang juga telah berevolusi menuju dunia dewasa, dunia yang penuh dengan ruang.

Saat dewasa nanti, mungkin Athari sudah tak heran lagi melihat ruang-ruang itu. Semua batas itu bahkan menjadi previlese yang harus dibeli. Athari akan membeli rumah, membeli mobil, membeli lemari, membeli perusahaan, membeli tiket masuk tempat disko, membeli sekolah, membeli tempat bermain, membeli harddisk. Seperti milyaran manusia lain, dia akan berebut membeli ruang-ruang itu karena dia butuh menyimpan privasi. Menyimpan rahasia...

Di saat itu mungkin Athari akan melihat kaki-kakinya, yang tak lagi gembil. Kaki-kaki itu sudah berjalan ribuan kilometer, jutaan hari, dan puluhan tahun. Dia mungkin akan lupa, kemana kaki-kaki yang penasaran itu. Kaki-kaki yang tak melihat ruang. Ia akan terlelahkan oleh ruang-ruang privat dan neraka yang diciptakannya. Di saat itu, Athari akan menemukan sesuatu yang bernama bangku untuk duduk dan berpikir.
  





jakarta, 11 juni 2010.
Athari photos are taken by my brother, Dwi 'Ian' Wijayanto
Dedicated to Athari and his curious feet.

Thursday, June 3, 2010

sebentar saja

aku ingin melihat wajahmu sebentar saja,
saat bulan terbit dan melepaskan mimpi-mimpi.
di detik itu, aku ingin dunia berhenti begitu saja dan
mataku tak berkedip memandangmu
sebelum kau terbius malam dan
tak lagi ingat bagaimana tangis yang kemarin lewat.
























Sunday, May 23, 2010

LCD Moments

hanya sejenis ke-iseng-an akut bersama teman-teman sebelum menjelajah hutan. dengan infocus pinjaman, kami mengeksplorasi cahaya dan tekstur gambar. hanya mengedit kontras warna saja. cukup puas dengan eksperimen yang satu ini. sampai jumpa di eksperimen selanjutnya. hehehe...





















Thursday, May 20, 2010

work kills!

lama juga nggak nge-blog. :) saya terbenam dalam pekerjaan yang semakin menggila, tapi saya sempatkan untuk sedikit memotret dan merenda. saya masih ada beberapa proyek kerajinan tangan yang tertunda. semoga bisa menyelesaikan dengan cepat. semoga akhir minggu ini akan menjadi akhir minggu yang kreatif sebelum saya bertugas ke hutan untuk beberapa hari. :)

hmm... saya punya pengalaman yang cukup traumatis minggu ini. dua malam yang lalu saya baru saja mengalami percobaan perampokan dan pelecehan. gilanya, itu terjadi di depan rumah saya sendiri. saya baru pulang kerja dan kecapekan. untunglah tidak ada yang sempat terambil, tapi mengalami pelecehan membuat mental saya sempat down. saya marah sekali. saya paham bahwa ada beberapa kali pencurian mobil di wilayah rumah saya. tapi perampokan dan pelecehan, saya belum pernah mendengar. ternyata, menurut tukang-tukang ojek, kejadian pelecehan sudah terjadi beberapa kali. pelakunya belum ketahuan. saya berniat, lain kali terjadi (amit-amit jabang bayi) saya tidak akan memberinya ampun. orang semacam itu harus tergoreng di neraka!

itu hanya satu dari beberapa kejadian aneh di kota yang 'sakit' ini. saya jadi sedih. saya ingin cepat-cepat masuk ke hutan. di sana hanya ada siamang, owa, dan makaka yang ribut berceloteh di kanopi-kanopi pohon-pohon tua yang tinggi dan rimbun. tidak ada orang sakit jiwa. hanya ada halimun dan embun yang mendinginkan hati. oh ya, juga ada Tomi! Hehehe... Siapakah Tomi? Nanti saya ceritakan kalau saya sudah kembali dari hutan yah?

see you next week, my blog!

Sunday, May 9, 2010

merenda

selain pergi ke hutan, mengurus gajah, orangutan, harimau, badak dan mamalia besar lainnya, saya suka merenda atau bahasa londonya 'crochet'. bukan, ini bukan merajut. saya tidak bisa merajut. ini sebuah teknik yang lain yang biasa diketahui oleh orang Indonesia. biasanya, ibu-ibu suka membuat taplak atau sepatu bayi... tapi saya suka membuat topi dan syal. agak riskan untuk dipakai di negara tropis seperti Indonesia, tapi namanya juga sudah suka, ya dibikin sajalah. hehehe...

untuk saya, merenda hampir seperti terapi atau meditasi. kegiatan mengulang-ulang tusukan seperti itu membuat hati saya tentram. saya menemukan diri sendiri di situ dan saya bisa berpikir dalam jeda yang panjang.

saya punya blog lain khusus untuk kegiatan waktu luang saya yang satu ini. karena kesibukan saya, saya sudah jarang update. tapi saya mau bertobat. saya mulai merenda lagi, walaupun di tengah serbuan pekerjaan kantor. tapi saya sudah berikrar untuk tidak membawa pekerjaan kantor ke rumah kalau tidak kepepet. waktu saya di rumah adalah waktu untuk diri saya sendiri. dan merenda adalah salah satu kegiatan yang sangat tepat untuk mengisi waktu itu.

silakan lihat-lihat hasil meditasi saya dengan merenda. karena saya sudah punya kamera semi-profesional, jadi kualitas gambarnya sudah lumayan baik. hehehe... hari ini saya berhasil memaksa teman sekantor untuk menjadi model hasil merenda saya. :D







ya sudah, saya mau lanjut bikin syal baru lagi. hehehe...!