Tuesday, January 22, 2013

The art of letting go

Punggungmu adalah yang ingin kulihat setiap hari. Aku tak ingin kamu berpaling. Karena wajahmu itulah yang menghentikanku, menghentikan waktu. Aku tak ingin kamu tersenyum. Karena senyummu itulah simalakama yang berkali-kali kutelan dalam setangkup rasa bersalah.

Karena kamu adalah senin sampai minggu. Kamu adalah detik-detik yang telah menjadi jantung dan sejarahku. Kamu adalah lembar-lembar catatan harian yang kutulis dan kusimpan dalam rahasia. Kamu adalah angin yang membawa perjalananku, yang menghembuskan badai dalam setiap 'hai' dan 'bye'. Dan pertanyaan... Pertanyaan! Demi Tuhan!

"Mungkinkah ini cinta?"
"Tapi mungkin ini juga donat!"

Sesungguhnya tak ada waktu yang tepat daripada saat ini. Melankoli ini sudah terlalu panjang dan meresahkan, mengalahkan episode-episode sinetron yang paling membosankan dan mengada-ada. Aku ingin mengantarkan rasa ini ke tepi tebing yang tinggi dan membiarkannya bunuh diri.

Segera.

Friday, November 23, 2012

Sensivera



Setiap kali melihat tanaman sensivera, saya selalu teringat ibu saya. Sejak 5 tahun terakhir, ibu mengoleksi 10 jenis sensivera di rumah. Tidak seperti tanaman hias lainnya, sensivera berbentuk unik; ia tak berbatang, bisa tumbuh sampai 1 meter, struktur daunnya kaku, berwarna hijau kusam atau merah kusam dan berujung lancip. Seperti lidah. Dalam bahasa Indonesia, tanaman ini disebut lidah mertua.  

Alasan pertama ibu menyukai tanaman ini karena sensivera mempunyai kemampuan menyerap racun dan radiasi lebih besar daripada tanaman lain. Yang kedua, karena menurutnya ada misteri di balik jeleknya bentuk sensivera. 

Saya mencoba untuk menanamnya di rumah. Tidak bagus seperti sensivera ibu saya. Mungkin karena salah lokasi. Sensivera saya berada di bawah rindang pohon kamboja dan bambu jepang, sementara menurut ibu sensivera membutuhkan sinar matahari yang lumayan banyak dan tidak terlalu lembab. Alhasil setiap tanaman sensivera saya membusuk di tengah-tengah. Jelek sekali.


Kadang-kadang Ibu berkunjung ke kebun tanaman milik dr. Purbo, pemenang kontes sensivera internasional, yang terletak di Desa Pancawati, Ciawi. Di sana, dia memilih jenis yang bentuknya paling jelek dan setengah rusak. Beberapa minggu kemudian, saya akan menemukan si sensivera jelek itu bertengger di depan pintu rumah ibu. Besar. Indah. Seperti tombak, bukan lidah.


Memandangi sensivera, saya percaya bahwa keindahan memerlukan kesabaran.Dan saya tahu dan selalu percaya, ibu saya adalah orang yang sangat sangat sabar.

Thursday, September 6, 2012

Berkebun

Saya bukan ahli tanaman dan hampir tidak tahu apa pun soal menanam. Tapi sejak pindah rumah dan dengan halaman kami sebesar itu, mau tak mau saya harus bercocok tanam. Agar tidak cepat bosan, saya mencoba menanam bunga karena saya senang bunga. Sesuai kesibukan saya dan suami, saya pilih bunga-bunga yang tahan panas dan tidak manja. Setelah tiga bulan, akhirnya bunga-bunga itu mekar juga. Dan bahkan sekarang tidak pernah berhenti mekar. ;)


Melati Belanda (Quisqualis indica)

Bunga kamboja atau frangipani (Plumeria rubra)
Kembang kertas (Zinnia elegans Jacq)
Kembang kertas (Zinnia elegans Jacq) 
Alamanda
koleksi kembang kertas ;)

Tuesday, May 1, 2012

magnetik

bisakah kau rasakan angin yang berhembus itu? membawa pesan-pesan jingga pada senja yang suram dan bintang yang karam. aku terburai dalam larik-larik romantika, hingga malam berdiri tegak di pintumu. aku bisa merasakan sebagian dariku lenyap di kata pertama dan kau mewujud utuh dalam binar yang paling sendu dan puitik.

dapatkah kau sentuh kelebat bayangku itu? berlalu cepat hampir tak terlihat. aku tak ingin meleleh dalam radius panas rindumu yang mistik dan terjerumus dalam curamnya andai-andai hingga malam meninggalkanku dalam bimbang di lorong hatiku yang semakin karang.

inginkah kau duduk di sini? di kutub utaraku yang dingin dan senyap. memandangi stalaktit-stalaktit surga di selatan yang berkelip nanar. duduklah di sini, bertahun-tahun, berabad-abad, hingga waktu menggerus jantungku. menyerpih. dan melepasmu pergi.


Friday, April 20, 2012

setelah dua gelas kopi


ingatan akanmu merayap bersama cerita yang sedih 

dan rindu yang pedih.

kita beranjak tua

dan kelak

tulang-tulang kita merapuh dan luruh bersama kota

dengan lampu-lampunya yang kian kusam

dan orang-orangnya yang kian bebal

seperti perjalanan kita di suatu malam yang singkat

suatu malam yang bebal

suatu malam yang meretakkan jantungku

hingga lantak dan berserak

di samping rusukmu.

inginnya tak aku akui, dan tak ingin kuratifikasi

pakta-pakta atas fakta-fakta

bahwasanya setelah bel besar itu berdentang dalam subuh yang tak kita rencanakan

aku tak ingin kau di sini

walau wajahmu adalah satu-satunya

yang kukenali

dalam penat

dalam sungguh

dalam luruh

hingga kita menghilang dimakan pagi.






Jakarta, beberapabelas april duaribukamu.

Monday, February 27, 2012

[...]

kuambil teropong,
kau,
duduklah di sini.
aku ingin melihat
ribuan malaikat bermigrasi
dari lahan basah tropis matamu
ke
musim bersemi
hatiku.
 
Photo courtesy: Balai Taman Nasional Sembilang, Sumatera Selatan, salah satu lokasi penting burung migran.
 

Monday, February 20, 2012

Steak break

Oke. Suami saya bersuku Madura dan dia mengklaim bahwa orang Madura secara genetis memang jago bakar-bakar. Memang klaim yang tidak scientific tetapi suami saya adalah orang yang paling ditunggu jika ada acara barbecue karena dia paling 'bener' membakar daging.

Saya agak tertantang jadinya untuk membuat steak. Masalahnya, kami tidak punya alat pemanggang. Setelah saya browsing-browsing resep di majalah Martha Stewart Living, saya menemukan resep ini. Kebetulan teman kami ada yang punya happy-call yang bisa berfungsi jadi oven. Saya pun mencoba mengikuti resepnya sambil sedikit improvisasi dengan bahan dan hasilnya membanggakan! Suami saya pun mengakui tingkat kematangan sempurna daging has dalam ini tanpa campur tangan Madura mana pun! Hehehe... Saya pasti akan membuatnya lagi lain kali untuk acara barbecue dengan keluarga atau teman-teman.

Saturday, February 18, 2012

Cooking mama

Mama saya adalah pemasak handal. Semua yang dimasak olehnya sungguh enak luar biasa. Dan saya ngomong begini bukan karena saya anaknya, tapi juga testimonial para tetangga yang kerap dibagi semangkuk masakannya atau saat berkunjung ke rumah. Mama pernah bikin warung makan di sebuah kampus dan warungnya hits banget. Tapi warung nggak bertahan lama karena adik bungsu jadi lumayan nggak keurus. Hehehe...

Tapi saya bukan mama.

Saya pemasak yang payah. Sejak 10 tahun lalu, satu-satunya hal yang saya mahir lakukan adalah membuat sayur bayam. Yaaaa sama goreng tempe lah. Tapi itu sudah prestasi luar biasa untuk anak bebal seperti saya. Saya pernah didiagnosa kalau saya kurang vitamin K. Makanya saya pelajari betul bagaimana memasak bayam seenak buatan mama. Dan berhasil!

Tapi saya tidak pernah sukses membuat hal lain. Saya penah mengira saya sukses membuat macaroni schotel. Tapi setelah beberapa bulan kemudian, saya menyadari bahwa campur tangan mama saya dalam membuat adonannya hampir 90 persen! Dan saya praktis cuma ngaduk aja! Hiks! Tapi...mama selalu bilang kalau itu macaroni buatan saya. Love you, mamaaaa! Setelah itu nafsu memasak saya pudar..... ;(

Sampai pada suatu hari, saya mau memasak spaghetti untuk suami tercinta. Dan setelah jadi, suami merengut dan bilang spaghetti nya nggak enak. Hatiku hancur luluh lantak berkeping-keping... Kalau itu rendang atau opor atau masakan versi jagoan lainnya, saya tidak akan seterluka ini. Ini cuma spaghetti gitu loh! Tinggal cemplung cempling beres, kok ya gak enakkkk? :'(

Untungnya bintang saya Pisces yang tidak pernah sakit hati lama-lama ;p Saya buka majalah-majalah yang punya resep-resep lucu dan fotonya bagus-bagus bikin ngiler. Saya putuskan untuk bikin beberapa resep masakan. Saya ikuti resepnya tanpa terlewat satu pun. Dan hasilnya.... Tadaaaa....!

Pas suami nyobain...dia tersenyum senang dan dipuji enak sekali. Aku senaaaaang! Dan, serius, enak banget. Resep yang sungguh jenius!

Sejak itu jadi ketagihan dan berjanji untuk menyempatkan diri masak setiap weekend biar hatiku senang terus. Hehehe...

Tapi yang paling menyenangkan adalah saya jadi semakin mengenal diri sendiri. Saya ternyata bisa kalau sudah terpojok (karna sakit atau dicela suami misalnya, hehehe). Dan saya tidak bangga karenanya. Saya harus berubah. Ayo kita masak!

Kirk out!


Thursday, June 2, 2011

ke rumah ibu

mari kita ke rumah ibu, dik.
rumah ibu dimana?
di sana...
di mana?
di dekat pelangi kata siMbah
naik apa kita ke sana, kak?
naik kereta
tapi kita tak punya uang
kita kan anak kecil
tapi anak kecil harus bayar tiket
siapa bilang?
kondekturnya
kondekturnya kan bisa lihat kalau kita anak kecil
tapi kita tetap musti bayar
kata siapa?
kata loket tiket: anak kecil bayar setengah
tapi kan kita bertiga
ya jadi satu setengah tiket
tapi aku kan bukan anak kecil lagi
berarti dua tiket
tapi kita nggak punya uang
lalu bagaimana kita ke rumah ibu?
kita jalan kaki saja
kata kakak rumah ibu jauh...
ya nanti kita jalan pelan-pelan saja
kakak kan tidak bisa jalan pelan-pelan
bisa kok
kalau aku capek?
aku gendong
kalau kakak capek?
kita duduk dulu istirahat
nanti kita nggak sampai-sampai...
pasti sampai
kakak tahu tepatnya dimana rumah ibu?
tidak tahu
lho terus bagaimana kita sampai ke rumah ibu?
nanti tanya orang
memangnya orang-orang tahu ibu kita?
pasti tahu
memang ibu terkenal?
kurang tahu juga...
kalau ibu tidak terkenal bagaimana?
ya kita cari tahu
kalau kita tidak ketemu-ketemu juga?
ya kita pulang lagi
masa pulang lagi? jauh lagi dong kak?
ya sudah tidak usah pulang lagi
baiklah, tapi sekarang kita jalan kakinya ke arah mana?
ke sana
ke sana mana?
ikuti saja rel kereta
rel kereta nanti ujungnya ke rumah ibu?
iya
kalau ketemu laut bagaimana?
ya kita seberangi saja
memangnya di laut ada rel kereta?
harusnya ada
ooo di mana-mana ada kereta?
ada dong...
terus terus kalau jalan ikuti rel kereta, bayar tiket juga nggak?
nggak bayar
nah, bagus itu! kalau begitu kita jalan sekarang kak!
kok sekarang?
iya, biar cepat sampai!
tapi kan sekarang sudah malam
oh iya, ibu sudah bobok ya...
iya, kamu juga harus bobok, dik...
oke! kalau gitu aku duluan ya kak...
duluan ke mana?
ke rumah ibu
katanya mau bobok?
iya, aku bobok terus aku mau mimpi ke rumah ibu.
baiklah. salam buat ibu ya? bilang besok kita ke sana
oke, kak! kalau ada petugas tibum, bangunkan aku ya kak...
iya nanti kamu kakak gendong
aku sayang kakak!

Saturday, May 21, 2011

sebenarnya kamu tidak pernah mati

kami telah menguburmu, sayang, tapi tidak dengan kenangan itu. karena kenangan adalah roh yang sesungguhnya. kenangan adalah bekas-bekas waktu yang dilewati tubuhmu, begitu dalam dan lindap. di sana ada senyum dan tangis. tawa dan amarah. atau nanar. atau yang biasa-biasa saja. dan setiap titik senyum, tangis, tawa, amarah dan lain-lain itu telah membentuk sebuah pola. pola kenangan itulah. yang nantinya - saat aku tak lagi bersedih tentu saja - akan kujahit dengan kenanganku sendiri. mungkin saat itu aku akan menangis. mungkin juga aku akan tertawa. atau biasa-biasa saja. yang jelas, aku tahu pasti, bahwa sebenarnya kamu tidak pernah mati.

kami memang menguburmu, sayang. tapi tidak kenangan itu. ia terus berbunga di kebun cintaku.



*untuk orang-orang yang pergi minggu ini...

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails