Saturday, June 4, 2016

Muhammad Ali dan Kakekku

Minggu lalu, tepat di hari Sabtu kakekku tercinta, Florentinus Maria Soewandi meninggal dunia. Saat aku diberitahu bahwa kakek sudah tiada, ada perasaan yang bercampur aduk. Tentunya aku amat sangat sedih, karena kakek adalah ayah keduaku, yang ikut merawatku saat baru dilahirkan. Walaupun beliau sifatnya keras, tapi sangat lembut kepadaku. Sampai sekarang tidak ada seorang pun yang bisa mengelus punggungku sampai aku tertidur pulas kecuali kakekku. 

Hingga Sabtu lalu, aku masih merasa kakek tidak akan ke mana-mana, karena dia selalu ada. Pola hidupnya yang sehat membuatnya dianugerahkan umur panjang: 98 tahun. Untuk ukuran manusia modern, mencapai usia lebih dari 90 tahun sungguh luar biasa. Sebelum wafat, kakek masih bersikap biasa saja. Sarapan dan makan siang di rumah ibuku (anak pertama) dan dia berencana untuk ke rumah tanteku (anak kelima) esok paginya karena mau dibuatkan nasi goreng ala tante. Tapi, saat tidur malam, kakek rupanya memutuskan untuk makan nasi goreng di surga saja. 

Kakek pergi dalam tidur. Begitu saja. Setenang itu. Tak ada sakit sama sekali. Hal terakhir yang diinginkannya malam itu hanyalah minum air putih dan tidur di pangkuan nenekku. Di sanalah dia menghembuskan nafas terakhirnya, berdua saja dengan istri tercinta yang telah dinikahinya 60 tahun lebih. Caranya pergi membuat hati saya cukup tenang. Yang penting kakek tidak sakit. Sampai petugas yang membantu memandikan jenazahnya pun bilang kalau jenazah kakek bersih sekali. "Semoga bapak khusnul khotimah..,"ujarnya. Amin. Lalu kucium kakek untuk terakhir kalinya.

Saat pemakamannya, banyak kudengar cerita-cerita tentang kakek dari orang tuaku, om dan tanteku, bahkan teman-teman di gerejanya. Beberapa agak mengejutkan sampai aku tertawa sendiri. Namun dari semua cerita itu, aku punya kenangan sendiri tentang kakekku. 

Kakekku senang olahraga tinju. Dia membuat peralatan gym sendiri di rumah: berbagai ukuran barbel dari beton dan besi rel kereta, membuat sangsak tinju sendiri dari ban dalam mobil, dll. Dan itu semua dibuatnya setelah masa pensiun tahun 1980. 

Setiap pagi dia bangun jam 4 subuh, membuka semua pintu dan jendela, membangunkan anak-anaknya dan aku (cucu pertama). Lalu dia berlari-lari kecil di halaman rumah, push up, pull up, skipping, boxing. 

Kami? Tidur lagi di meja makan. 

Setiap ada pertandingan tinju, kakek akan bersiap siaga di depan televisi. Sementara kami duduk berjejer di belakangnya. Ya, di belakang punggungnya. Kami memang tidak berencana ikut menonton televisi. 

Saat pertandingan mulai, di situlah pertunjukkan sebenarnya juga untuk kami. Kakek akan berteriak-teriak menyemangati jagoannya sambil ikut 'bertinju di udara'. Kami akan tergelak di belakang punggungnya sambil mengikuti gaya bertinju di udara. Jika jagoannya kalah, dia akan meremas2 bangku sampai kadang-kadang vernisnya terkelupas. Kalau jagoannya berhasil melayangkan jeb KO, kakek akan melompat dari duduknya dan berteriak: "MODYAAAARRRR KOWEEEE!!"

Laugh. 
Out. 
Loud.

Petinju kesayangan kakek adalah Mohammad Ali. Baginya, Ali tidak hanya bertinju tapi juga menghibur penonton pertandingannya. Tidak ada petinju setelahnya yang bisa menghadirkan seni bertinju seindah Ali. Apalagi Tyson. Wah, dia benar-benar tidak menikmati pertandingan Tyson yang cuma 30 detik itu. "Seperti nonton badak ngamuk!" katanya

Saat kubaca hari ini Mohammad Ali pun wafat, tanpa sadar Aku tersenyum... Kubayangkan wajah kakekku yang sumringah bertemu dengan idolanya di pintu surga dan mereka bisa "bertinju di udara". 





Wednesday, January 6, 2016

Prosa tentang cinta dan lainnya (2)

Tahukah kau kapan Tuhan mengujimu? 

Pertama, ya...aku percaya Tuhan itu ada. Aku bukan penulis yang sehebat itu, yang mampu membelejeti Tuhan dengan logika. Mungkin otakku memang tidak 'nyampe' ke situ. Aku memang tipe manusia yang nrimo saja seperti itu. Mungkin ini pengaruh usia.

Dan selama ini aku tidak pernah tahu kapan Tuhan mengujiku, hingga aku kehilangan janin yang sedang kukandung saat itu; hingga kekasihku (pernah) mengatakan akan meninggalkanku; hingga aku kehilangan janin kedua yang sedang kukandung belum lama ini. 

Aku menghitung-hitung ujian Tuhan seperti pepatah: tidak ada asap kalau tidak ada api. Tuhan pasti sedang mengujiku dengan kesusahan-kesusahan ini, merenggut kebahagiaan-kebahagiaanku. Aku bersimpuh dalam ruku yang sunyi dan meminta ampun, karena sakit sekali terasa di hatiku. Hentikanlah kesusahanku ini. Oh Tuhan...

Di malam saat aku bersimbah darahku sendiri, mengeluarkan gumpalan kebahagiaanku dari rahimku - di sekelebat itu Tuhan memberikanku jawaban. Tidak, Aku tidak mengujimu dengan kesusahan-kesusahan, atau dengan kesakitan, atau dengan kesedihan. Aku mengujimu dengan rahmat dan berkat yang Kuberikan. 

Percayalah, aku bukan Mesias atau nabi akhir jaman. Tapi aku percaya bahwa itu adalah sekelebatan sabda. 

Ya, Kau mengujiku dengan rahmat, berkat, dan kenikmatan. Semampu apa aku mensyukuri itu semua? Semampu apa aku merawatnya? Tubuhku, cintaku, keluargaku, kesempatanku. Seberapa sabar aku menjalaninya?

Saturday, August 1, 2015

prosa tentang cinta dan lainnya (1)

Sesungguhnya aku pernah bertanya - pada suatu malam yang senyap dan tak kudus - kepada diriku sendiri: dari mana datangnya cinta?

Sudah lama aku tidak mempercayai mataku yang rabun jauh. Dan aku tak punya kriteria tentang ketampanan atau kecantikan. Yang aku punya hanya kriteria tentang kenyamanan, karena aku merasa hidupku tidak nyaman jadi kenyamananlah yang kucari. Aku bisa mencari kenyamanan di mana saja: trotoar yang berdebu, gubuk yang reyot, atau hutan belantara yang gatal. dan sebaliknya aku juga bisa menemui ketidaknyamanan di mana saja: hotel bintang lima, kafe super fancy, atau di tengah sekumpulan anak hipster dalam sebuah pameran seni rupa.

Aku percaya: sesungguhnya cinta datang dari kenyamanan. Seperti ketika pertama kali aku menyadari bahwa aku mencintaimu. Pertama kali aku menyadari bahwa berdiri di dekatmu bukanlah asing. Dan ketika berpeluk denganmu adalah pulang.

Kau bukanlah seseorang yang kuidolakan. Kau bukan pujangga. Kau bukan aktor kawakan. Kau bukan cendekia penuh teori mulut menganga. Bukan. Kau adalah seseorang yang kucintai. Dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Akulah yang akan mencarimu dalam sudut-sudut labirin memori: di mana kau lahir; di mana kau tinggal; di mana kau makan; di mana luka masa kecilmu; di mana kau kehilangan keperjakaanmu.

Kau adalah seseorang yang kucintai. Dan terus terang aku lambat menyadari bahwa aku betul-betul mencintaimu.

Ketika bertemu, kau hanya seorang pemuda berambut gondrong lembab yang tak menarik. Tidak tinggi. Berkulit gelap. Beranting-anting. (Where have you been? Man-earings in Y2K? Dude, really?) Kita saling tidak peduli, bahkan di jabat tangan pertama. Aku lupa namamu. Kau lupa namaku. Kita utara dan utara. Selatan dan selatan. Tidak tarik menarik.

Hingga dalam dingin udara kota kelahiranku itu, kau mendekapku kegirangan. Tanpa nafsu. Seketika itu ada yang berdenyut di gelap hatiku. Denyut yang lembut dan bersahaja. Tapi saat itu aku begitu sedih dan kesepian, aku mengacuhkan denyut itu hingga mataku kembali menatap matamu berselang beberapa waktu kemudian.

Aku jatuh cinta. Pada seorang lelaki di belakang kamera, yang terus mengintipku dari balik lensanya. Berpura-pura di balik pertemanan. Tapi aku terlalu sedih dan kesepian. Aku mabuk dalam ketidakpercayaan diriku, oleng sendiri dalam kekecewaan dan kesalahan.

Aku jatuh cinta. Pada seorang lelaki yang memelukku erat dalam tidur. Tanpa kembang api yang meledak-ledak di hati dan kepalaku. Cinta yang hening namun waspada. Cinta yang siap untuk ditinggalkan. Mengutip Sapardi, aku mencintaimu dengan sederhana. Hampir tanpa syarat.

Aku akan mencintaimu jika kau ingin dicintai.
Aku akan menemanimu jika kau ingin ditemani.
Aku akan merindukanmu jika kau ingin dirindukan.
Aku akan tetap di sini jika kau bosan dan pergi.

Hampir seperti syair lagu cinta yang usang. Seperti kebodohan yang buta. Tapi itu kenyataanku. Aku pun sulit percaya.

Aku lebih mencintaimu saat kau membuatku tertawa dengan lelucon-lelucon ndesomu. Aku lebih mencintaimu saat kau mabuk dan meratap kepadaku untuk jangan meninggalkanmu. Aku lebih mencintaimu saat kau marah dengan pembaca puisiku yang delusif. Aku lebih mencintaimu bahkan saat kau lelah dan ingin meninggalkanku...

Dari mana datangnya cinta?

Cinta datang dari kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang terbagi dan tinggal di hati.
Dan itulah dirimu bagiku.








July 17th, 2015
Happy anniversary, Love...

Tuesday, July 28, 2015

To Make You Feel My Love (Bob Dylan)

When the rain is blowing in your face
And the whole world is on your case
I could offer a warm embrace
To make you feel my love

When evening shadows and the stars appear
And there is no one there to dry your tears
I could hold you for a million years
To make you feel my love

I know you haven't made your mind up yet
But I would never do you wrong
I've known it from the moment that we met
No doubt in my mind where you belong

I'd go hungry, I'd go black and blue
I'd go crawling down the avenue
And oh, there's nothing that I wouldn't do
To make you feel my love

The storms are raging on the rolling sea
And on the highway of regret
The winds of change are blowing wild and free
You ain't seen nothing like me yet

I could make you happy, make your dreams come true
Nothing that I wouldn't do
Go to the ends of the earth for you
To make you feel my love

Saturday, April 25, 2015

tentang GSG

Ini bukan perkara gedung. Atau ruangan. Atau pilah-pilah kayu usang reyot penuh sarang laba-laba dengan lantai seperti kaki anak kampung kudisan.

Bukan.

Ini bukan semata gedung. Atau ruangan. Ruangan ini sungguh serba guna namun sederhana. Seukuran dua lapangan badminton, mampu menampung tujuh ratus anak baru gede yang cengeng dan caper.

Di ruangan ini saya pertama kali bertemu idola saya: Srimulat (feat. Didhik Ninik Thowok). Memakai cincin akik bacan sebesar batu kali dan jam (seperti) rolex, Tessy tampil tak seperti biasanya: jadi laki-laki. Pakai jas necis warna khaki, rambut gondrong diikat tapi mengilat, dan sunglasses bertangkai emas. Ujarnya saat itu,”Saya harus tampil keren, karena ini kampus orang keren. Masa’ saya dandan kayak Didhik Ninik Thowok?!” Semuanya tertawa. Iya, tertawa dong. Pasti dia lagi ngenyek. Apa dia tidak lihat dia sedang manggung di ruangan bobrok yang nggak ada bagus-bagusnya?

Lalu apa yang membuat saya, kita begitu tersengat ketika ruangan bobrok laksana kaki kudisan itu digempur alat berat dan diratakan dengan tanah?

Karena pertama, ini perkara kenangan.

Kenangan jutaan anak muda yang sedang nakal-nakalnya, penuh letupan hormon, dan begitu naif dengan cita-citanya. Kenangan yang berbaris memakai kemeja putih dan celana putih – yang mungkin baru dibeli sehari sebelumnya – dengan dagu menempel di dada. Kenangan yang bau bir, bau anggur merah, atau bau naga yang berteriak lima sentimeter di depan muka. Kenangan yang riuh dengan tepuk tangan, seruan-seruan kotor bau selangkangan. Kenangan tentang melodi idola remaja. Tentang kemeja flanel. Tentang kepang wendy's. Tentang tenaga dalam. Tentang dunia lain. Tentang cinta pertama. Tentang cinta terakhir. Tentang kehidupan. Tentang kematian.

Tentang kita.

Mungkin saya tidak bisa begitu mengingat secara detil apa saja yang sudah saya lakukan hampir dua puluh tahun lalu selain pernah membawa sekerat teh botol tidak dingin untuk dijual ke cowok-cowok fakultas teknik sipil dan arsitek yang sedang main bola sambil menyumpahi mereka mandul atau kena sipilis kalau tidak beli; atau memutuskan untuk ikut paduan suara yang tenar itu dan berhenti tepat setelah tampil di konser perdana dan saat itu saya menyadari kalau saya tidak begitu suka menyanyi ramai-ramai (maklum, mental rockstar…); atau memberikan kejutan kecil kepada beberapa ratus orang yang sudah siap membawa bunga belasungkawa dan demo ke DPRD karena katanya saya sudah tewas di Tragedi Semanggi 98 (Cuma benjut sakit banget…); Atau…oh banyak ternyata.

Ketika 20 tahun berlalu, banyak dari kita tidak sadar akan begitu banyaknya langkah-langkah kecil yang kita jalani melewati dan di dalam ruangan serba guna itu. Ruangan yang menjadi saksi mimpi-mimpi yang kandas di semester 4 dan hentakan kaki untuk bangkit kembali atau merangkak melewati pintu gerbang kehidupan dewasa yang menyakitkan hingga hari ini.

Lalu kita tersentak ketika ruangan bobrok itu dirobohkan dan digantikan dengan 'gedung' megah berlantai-lantai buatan alumni kampus lain. Ouch. Sakitnya tuh disokin, broh (nunjuk ke kepala). Kayaknya 15 tahun lalu saya pernah dengar banyak protes (termasuk dosen-dosen) mengenai pembangunan gedung belakang yang diperkirakan akan menyerap banyak cadangan air di sekitar, belum lagi ekses konsumsi dan dampak lingkungan dari penumpukan ribuan orang di area yang secuil itu. Luar binasa. 

Terbukti kok. Kunjungan saya awal tahun ini ke kampus pun sangat tidak berkesan. Ciumbuleuit jadi sumpek dan panas. Belum lagi sampah di mana-mana. Eh, bukan karena saya pernah kerja 10 tahun di LSM lingkungan, tapi ya hanjirr atuhlah ... jorok pisan! Kayaknya sebandel-bandelnya saya dan teman-teman saya yang lebih bandel dulu itu nggak pernah membuat area parkir di kampus jadi kolam sampah plastik. 

Kok jadi ngelantur? Tidak. Ini tidak ngelantur. Ini bukti ekses yang tidak bisa dihindari dan diatasi oleh segenap anggota civitas akademika. Karena ini bukan lagi perkara ruangan. Atau perkara kenangan. Ternyata lebih dari itu. Ini perkara tingkah laku. Seribu GSG bisa dihancurkan. Seribu gedung baru bisa dibangun. Tapi bagaimana dengan perilaku civitas akademika? Apakah dengan menambahkan gedung bertingkat 20 di bekas GSG akan mengubah pola pikir? Saya kira tidak. Gedung baru hanya akan menimbulkan lebih banyak pertanyaan. Mungkin tidak hanya dari saya atau ribuan alumni, tapi juga dari warga lain yang bergantung pada daerah-daerah tangkapan air seperti Ciumbuleuit. 

Pertanyaan terbesar di kepala saya saat ini: Kenapa nggak pindah lokasi saja sih? Yang lebih besar, lebih fokus, lebih memadai untuk segala kebutuhan belajar mengajar. Suka ngiri lho sama kampus-kampus lain yang punya area luas, punya hutan, punya kebun, punya danau, punya pohon-pohon, punya tempat piknik. Mengapa harus bertahan di area yang sempit itu? Mengapa harus menyusahkan diri? Mengapa harus menyusahkan masyarakat?

Ini bukan tentang gedung. Atau ruangan. Ini tentang kita. GSG sekarang sudah menjadi puing, tapi jangan sampai akal budi ikut hancur bersamanya.



Thursday, March 5, 2015

tentang puisi

Pada suatu malam yang cukup jahanam, saya yang muda sedang kalut. Kira-kira waktu itu saya sedang putus cinta. Pacar saya meninggalkan saya tetiba dan saya butuh curhat. Saya pun membuka blog dan mencoba menulis puisi. Entah ada lalat apa di dalam kepala saya, tombol 'Delete Your Blog' terpencet oleh saya.

BLAR!

Hilanglah blognya si Randurini yang legendaris itu. HAHAHA.... Sudah puluhan puisi dan tulisan ada di situ. Bah. Sejak itu saya berusaha mengumpulkan kembali serpihan-serpihan puisi saya dengan bantuan Mbah Google. Berikut adalah beberapa puisi yang saya kira cukup layak untuk re-publish. Selebihnya? Itu hormon. Hihihi... Enjoy!


KE LAUT SAJA

sendiri, meludahi matahari
menelanjangi sepi kesekian kali

sementara bentang harap melebar
celah retak ruang dada lama lelah mendebar

seperti gemuruh langit yang lama kecewa
teriakku menghambur ke hitam semesta

bila tak jua kau lihat lebam di sudut mata
khilaf batin mencuat memburu senja

kukucurkan semua tanya ke laut saja


-pantai utara, 24 Mei 2002.

 

SEBUAH PINTU DAN SURATKU



lembar-lembar malam ada di genggaman, berisi jutaan
salam yang pernah dialamatkan bulan. aku tak ingin
menjajakan kelelahan demi sebungkus iba. aku ingin
terburai, terburai begitu saja tanpa
pertanyaan-pertanyaan tentang lembar-lembar malam yang
kukirimkan kemarin siang. ke pintuMu.
 
(24 april 2005) 

DALAM HATI TAK ADA LAGI PUISI

di hati sudah tak lagi ada puisi.
hanya lemak jenuh isi penuh.

di jantung tak lagi berdetak puisi.
reuni romansa kopong tanpa logi.

di kaki ada sejalan puisi.
aku pergi, habis hari.


(28 april 2005
)


KITA MASIH PUNYA CINTA

kita masih punya cinta
di saku celana
di selipan kaus kaki
di lipatan saputangan
di bawah sajadah
di dalam asbak
di celengan babi
di tiap getar telepon genggam
di tengah halaman novel Marquez
di antara pita kaset Joni Iskandar
di lengkingan Candil Serieus
di guyuran toilet
di daun-daun gugur
di tunas-tunas malu
di ayun-ayun batik lusuh ibu
di desis pohon kelapa
di gemeretak jemari
di setiap kunyah
di setiap langkah pulang

kita toh masih punya cinta
kecil mungil ringkih
namun bernyawa

(2003)


MERCADO

mata belum lagi lelap sungguh
selarik irama melayu di sela adzan subuh
meroda becak bawa ibu ke pasar. menjemput lapar
daftar belanja bagai larik puisi di selembar slip gaji
cerita seracik bumbu sampai ke pinggan
sekeping rupiah jadi incaran
segenggam garam jadi pikiran

menggunung sayur tumbah di pinggiran
segala pantun sahut menyahut para pedagang
jangan tawar sayurku jangan
matahari naik setinggi bensin
terik di kantong semakin kering
jangan tawar hatiku jangan
dari jahe sampai gerabah
busung lapar katanya bukan wabah
janji-janji tergulung air bah
rumah dusun masih rata dengan tanah
jangan tawar cintaku jangan
cabe boleh merah cabe boleh keriting
keringat jambal asin memang kurang penting
dimasukkan dalam pakta-pakta negara dingin
lapak-lapak yang digelar sepanjang trotoar
adalah perdagangan bebas kami
walau tak bebas pungli, jawara, hypermart dan SK Bupati

lantun irama melayu di becek tanah
ayun ayun keranjang ibu melipir pasar
pilih pilih bukan sembarang
barang bagus bukan tikus yang dibungkus
pasal karet dan dakwaan hangus
pilih-pilih bukan sembarang
jargon sakti kepulan asap wangi beras pandan
adalah setebaran senyum di meja makan



{2005, ke pasar bersama eyang puteri...}

salam sayang,
randu

#MaretMenulis

Tempo hari seorang teman memberi tahu saya soal sebuah tantangan bertema #MaretMenulis.

Sudah lama saya merasa berdosa terhadap blog saya ini. Saya sangat jarang menulis. Pekerjaan kantor mengonsumsi seluruh waktu saya. Dan tidak, ini bukan alasan yang bukan-bukan. Mungkin saya bukan tipe penulis yang bisa menulis kapan saja dan di mana saja. Mungkin juga slogan 'menulis sebagai katarsis' yang pernah saya gaungkan belasan tahun lalu itu sudah tidak relevan. Saya tidak bisa mengelak bahwa urusan 'duniawi' seperti pekerjaan dan rumah tangga (baca: suami) sungguh mengokupasi waktu saya. Bahkan waktu luang saya pakai untuk istirahat. Tidur. Ngiler. Nonton film. Hal-hal yang tidak membutuhkan saya untuk berpikir berat-berat apalagi di akhir minggu.

Lalu di awal tahun 2015 saya pun resign dari kantor.

Walaupun saya punya kegiatan lain yang menyita seperti mengelola warung kecil saya dan WeWo Weekend Workshop, saya seperti tidak bisa mengelak ketika tantangan #MaretMenulis sampai ke layar hape saya. Duh, kayak diingetin sama dosa!

Tentu saja membiasakan diri menulis sekarang tidak semudah ketika saya memulainya 16 tahun lalu. Saya pun baru sadar kalau Maret sudah lewat 5 hari dan saya belum menulis apa-apa. Alhasil saya berjanji kepada diri sendiri untuk lebih setia pada jadwal menulis. Tulis apa saja.

Namun saya tidak berani sesumbar. Saya hanya berharap mudah-mudahan saya bisa menghasilkan 31 tulisan di bulan ini. Semoga bisa. Finger crossed!


salam sayang,
randu

Kereta api (bagian 2)

Kakek mengangkat kacamatanya. Dia menempelkan dahinya ke kaca mobil, tampak berusaha mengenali daerah di mana kemacetan ini terjadi.  

"Ini di mana, Rin?" tanyanya kepada saya.

"Pejaten, YangKung..." jawab saya.  

"Hohoho... Ya ya ya... Pejaten! Dulu di sini banyak villa! Tempat meneer dan mevrouw pesta-pesta... Sejuk sekali udaranya. Kok sekarang sudah seperti ini ya? Macet... Hmmm.... Kalau Kampung Kemang masih ada?" tanyanya lagi.

"Masih, YangKung," jawab saya,"Meneer dan Mevrouwnya juga masih banyak di sana!"

Saya memang suka menggoda Kakek yang sudah berkurang pendengaran. Kadang dia tahu kalau saya menggodanya, dan dia akan tertawa terbahak-bahak agak terlambat. Walaupun usianya beranjak ke digit 9, ingatannya luar biasa tajam. Apalagi kalau berurusan dengan sejarah bangsa dan kereta api. Dia bisa menjelaskan dengan detil kapan jalur-jalur kereta itu dibuat. Kakek saya bukan tipe pria yang hangat. Tetapi lewat kereta, dia setidaknya berusaha dekat dengan saya, cucu pertamanya.

Tahun 1974, Kakek dipindahkan lagi ke DAOP Bandung. Mereka menempati sebuah rumah bergaya art deco dan berhalaman luas di samping Stasiun Kiara Condong. Walaupun tidak sebagus rumah-rumah dinasnya di tempat lain, tapi akhirnya rumah dinas inilah persinggahan yang terakhir untuk Kakek sampai ia pensiun. Saya lahir dan menghabiskan sepertiga umur saya di rumah itu, saya mengenali seluruh kerutannya. Tak ada di rumah itu yang tidak berbau kereta api. Bahkan pagar rumah pun dibuat dari bantalan baja rel bekas yang dilego oleh Jawatan ke para pensiunan. Jadi hampir sederet rumah pensiunan itu bentuk pagarnya seragam: bantalan rel.

Tidak ada jam weker di rumah. Weker kami adalah terompet kereta. Kereta jurusan Surabaya akan mengaum tepat di depan rumah pukul 03.30 pagi dan menularkan getaran khas kereta lewat. Lalu Kakek dan Nenek akan otomatis bangun dan kemudian membangunkan seluruh penghuni rumah. Hanya saya dan satu sepupu saya, cucu-cucunya yang merasakan ritual 'awakening' khas Kakek bahkan di saat liburan sekolah: "Hayooo! Tangiiii... Tangiiii Wis awan jeeehh...! (Red: Bangun! Banguuun! Sudah siaaaaang...!)" (padahal masih jam 4 subuh...). Kalau kereta Surabaya terlambat lewat, Kakek pun akan menggerutu berkepanjangan. Terlambat memang tidak pernah ada dalam kamusnya.

 "Ya begini ini kalau Harto yang mimpin! Pegawai mental tempe semua! Kereta saja sampai terlambat! Coba kalau jaman Bung Karno, nggak ada itu kereta terlambat! Kalau terlambat ya bisa kalah perang! Haaarrtooo itu mustinya tahu!.....dst....dst....dst"

Liburan sekolah dan Natal selalu saya habiskan di Bandung. Selain merasakan ritual bangun pagi itu, saya juga hampir selalu menggunakan kereta kemana saja. Ke Kosambi, naik kereta. Ke Pasar Baru, naik kereta. Ke Bonbin, naik kereta. Kami tidak pernah membayar, karena Kakek punya kartu SAP. Saya jarang naik kereta di Jakarta, karena bapak saya punya motor. Jadi saya menikmati saja kemana-mana naik kereta ini. Naik kereta lebih cepat juga daripada naik angkot yang mulai menjamur di Bandung saat itu.

Pernah suatu kali saya diajak liburan oleh Kakek ke Gombong, tempat asalnya, untuk menjenguk adiknya. Mungkin karena musim liburan, semua kereta kelas ekonomi penuh. Jadi terpaksa kami harus naik gerbong barang. Selama 12 jam, saya bersama sepupu saya, paman saya dan Kakek duduk di gerbong barang hanya beralaskan koran. Kalau ditanya perasaan saya waktu itu tentu saja saya stress luar biasa. Bagaimana tidak? Kereta itu berhenti di setiap stasiun yang dilewati, lalu di setiap stasiun ada saja orang, barang, dan hewan yang naik bergantian. Saya harus tidur atau pura-pura tidur di sebelah puluhan ayam dalam kurungan yang besar. Lalu seember ikan. Lalu ayam lagi. Lalu kambing. Belum lagi gerbong itu panas sekali. Bau ayam, kambing, ikan, keringat orang, pipis bayi, campur aduk jadi satu.

Kalau saya dan sepupu saya mau menangis karena tidak tahan, Kakek akan menunjuk ke arah anak yang lebih kecil dari kami. Anak itu duduk anteng sambil makan wafer. "Lihat. Masa kalian kalah sama adek itu?" Karena kami anak-anak Jakarta bergengsi tinggi, kami terpaksa usap air mata kami dan menahan seluruh emosi sampai kami tiba di Gombong.

Saat saya liburan sekolah di Bandung, hal yang paling saya tunggu setiap hari adalah menanti matahari terbit atau tenggelam sambil mengajak anjing-anjing kami jalan-jalan di sepanjang rel kereta. Tujuan kami adalah bermain di antara gerbong-gerbong tua yang berjejer di dekat kantor perawatan. Gerbong abu-abu lusuh itu menjadi saksi semua kenakalan saya dan saudara-saudara saya.

Dulu tahun 80-an, stasiun Kiara Condong tidak seluruhnya berpagar seperti sekarang. Semua orang bebas melintasi rel atau menitinya menuju peron. Dari situlah lahirnya cerita-cerita horor. Banyak sekali kejadian orang ditabrak kereta; ya entah murni kecelakaan atau bunuh diri karena patah hati atau dikejar utang. Banyak orang gila yang juga terlindas. Yang paling terekam di ingatan saya adalah suami istri lanjut usia penjual dawet/cendol yang tertabrak kereta. Kalau kata tetangga, saat itu banyak orang sudah berseru menyuruh mereka menjauhi rel karena terompet kereta sudah terdengar mendekat dan pintu lintasan sudah ditutup. Tapi seakan-akan mereka tidak mendengar. "Ah lamun didieu mah loba jurig sering nutupan ceuli!" (Kalau di sini banyak setan yang suka menutup telinga) Lalu kami yang kecil-kecil ini kerap diberitahu untuk selalu berhati-hati kalau membawa jalan anjing atau bermain di gerbong tua.

Tapi biar begitu, tetap saja kegiatan di sekitar rel depan rumah dinas baik itu jualan kaki lima atau apa pun berlangsung. Bahkan warga sekitar yang punya hajat sering menggelar layar tancap di lapangan pinggir rel. Nah, untuk menambah ketegangan urban legend di daerah rumah kami, maka panitia layar tancap seringnya memutar film horor dari kuntilanak suzana sampai pocong benyamin. Sambil diselingi jeda kereta lewat tentunya. ;)

-bersambung.


Belajar Merajut

Setelah setahun saya mengajar tentang merajut, saya sempat berkilas balik pada pengalaman saya. "Karir" mengajar saya dimulai dengan mengajar teman-teman di kantor saya dahulu. Pada suatu hari, beberapa teman meminta saya untuk mengajari caranya merajut. Mulanya hanya 4 orang yang 'berminat' untuk belajar. Keesokan harinya menjadi 10 orang. Keesokan harinya menjadi 15 orang. Tak sampai dua bulan kemudian, demam rajut pun menjalar ke berbagai divisi/departemen di kantor.

Lalu ketika ada event Earth Hour, saya pun dengan setengah bercanda mengatakan kepada teman-teman panitia bahwa saya dan teman-teman yang merajut akan mengadakan SAPI KEJUT - Sambil Piknik Kita Merajut - karena kebetulan lokasinya di Taman Proklamasi. Alhasil pada hari Earth Hour 2013, kami pun asyik merajut di taman Proklamasi yang rindang. Bahkan beberapa relawan Earth Hour juga ikut belajar.

Yang paling membanggakan buat saya pribadi adalah hasil teman-teman yang belajar merajut. Mulanya saya menekankan manfaat merajut bagi diri kita sendiri. Merajut itu adalah terapi yang bagus untuk melatih fokus, kesabaran, dan cita rasa. Namun, ternyata manfaat merajut itu juga bisa dilihat dari segi ekonomi. Ada yang tadinya merasa putus asa merajut, saat ini sudah membuat berbagai produk rajutan yang entah itu dijual maupun untuk hadiah. Tentu saja nilai ekonomisnya ada dan lumayan jumlahnya. Seorang teman yang akhirnya menerima pesanan paket untuk bayi (selimut, topi dan sepatu) kalau rajin bisa mendapatkan tambahan hingga 800 ribu rupiah.

Teman lain juga mengatakan bahwa saat ini dia tak perlu repot-repot lagi mencari kado untuk kelahiran bayi atau ulang tahun teman anaknya. Mulanya tidak percaya diri dengan hadiah buatan tangan sendiri, tapi ketika menerima pujian dari sang penerima hadiah, ah sumringah rasanya. Selain itu, jadi irit! Ha!

Sejak mengajar, saya pun bergerak ke komunitas-komunitas. Saya ingin melihat geliat komunitas rajut di dunia maya. Dulu waktu saya bertandang ke Facebook groups merajut, fokus saya hanya untuk mencari benang dan alat, tapi sejak setahun terakhir berubah menjadi riset dan mengembangkan jaringan.

Dari hitungan kasar dan mengabaikan user ganda, ada 10.000 orang yang tergabung dalam berbagai komunitas rajut di Facebook. Dari penyedia material sampai perajut. Ada dua tipe komunitas rajut: komunitas jual beli dan komunitas belajar. Untuk komunitas jual beli, tentu saja lebih mudah untuk berinteraksi lewat grup-grup ini. Tapi bagaimana dengan komunitas belajar? Terus terang saya tidak menemukan kenyamanan belajar via Facebook Group. Sharing atau berbagi pola atau hasil mungkin bisa, tapi belajar? No way. Dengan anggota grup yang sangat banyak, sangat sulit untuk melihat kembali thread walaupun sudah dibantu dengan notifikasi. Ribet.

Dari situ saya melihat bahwa perlu ada platform belajar yang mumpuni bagi para 'murid' rajut di berbagai daerah di Indonesia. Platform yang membuat semua orang bisa belajar dan mengajari dengan runut tanpa kesulitan mengakses informasi. Bagaimana ya caranya? OK. Biarkan saya berpikir dulu sebulan dua bulan ini, dan nanti akan saya kabari lagi. ;)

Sampai jumpa!


Friday, November 21, 2014

Kereta Api (bagian 3)

Saya pernah menulis puisi yang berlatar belakang cerita bertema kereta api yang ketiga ini. Ini memang cerita tentang keluarga saya, tentang orang-orang yang saya sangat cintai: eyang kakung dan eyang putri saya. Dan entah kenapa semua jadi berbau kereta.

Mulanya nenek saya bernama Sri Rejeki, namun setelah menjadi katolik dia mengubah namanya menjadi Maria Goretti Sri Priyanti - seperti nama ibunya. Saya tak pernah mengenal eyang-eyang buyut saya, tapi eyang putri saya pernah berkata kalau saya sangat mirip (terutama rambutnya) dengan eyang buyut putri, Eyang Priyanti.

Eyang Priyanti berasal dari keluarga priyayi, saudagar besar di Kota Semarang, Jawa Tengah. Sementara eyang buyut kakung saya - Eyang Seno - berasal dari keluarga bangsawan dari Tuban, Jawa Timur. Mereka mempunyai 2 orang putra dan 1 orang putri, yaitu eyang putri saya. Awalnya mereka hidup senang di Kediri, Jawa Timur, namun akhirnya eyang Priyanti memutuskan untuk kembali ke Semarang setelah menyerah hidup dengan bangsawan nyeleneh macam eyang Seno.

Jangan pikir macam-macam dulu. Eyang Seno nyeleneh karena ternyata dia sangat menyukai seni. Beliau bisa memainkan berbagai macam alat musik, jago melukis, menari, drama dan mempelajari ilmu herbal. Kok ya saya curiga eyang Seno ini kayaknya berbintang Pisces kayak saya. ;)))

Sementara eyang Priyanti- putri priyayi tulen - biasa hidup serius. Sungguh serius. Orangnya apik, bersihan, teratur, jago table manner Eropa, pintar menjahit, baca tulis ngomong boso londo. Setiap natal, cerita yang selalu diceritakan kembali soal eyang Priyanti oleh ibu saya dan adik-adiknya (yang sempat mengenalnya) adalah soal eyang buyut sangat strict dalam hal table manner dan kebersihan. Dan betapa mereka sungguh tersiksa dengan itu karena tidak pernah diajari oleh ibu mereka, si Sri Rejeki bandel, soal table manner whatsoever.

Tentu saja dua pribadi sejoli itu sangat bertolak belakang dan akhirnya eyang Priyanti memutuskan untuk kembali ke Semarang. Karena sesuatu dan lain hal, eyang Priyanti meninggalkan ketiga orang anaknya bersama dengan suaminya jauh di Kediri sana. Saat itu kira-kira tahun 1937, eyang Sri baru berusia 5 tahun...

Eyang Sri cerita kalau saat itu dia menangis tanpa henti, siang-malam. Dia ingin ibunya kembali. Tapi keangkuhan priyayi Jawa di jaman revolusi sungguh rumit. Kepergian eyang Priyanti menjadi wajar. Menjadi keharusan. Jaman bergerak, jangan hidup susah. Tidak ada pertanyaan yang keluar dari anak-anaknya saat itu. Mereka hanya menangis di dalam kamar yang dikunci. Kejadian itu menyisakan trauma untuk eyang Sri, tapi juga awal dari sebuah kisah hidup paling spektakuler yang pernah saya dengar (dari keluarga sendiri).

Setelah ditinggal ibunya pergi, tiga bersaudara ini pun hidup berpindah-pindah mengikuti bapaknya yang bohemian. Eyang Seno sempat menikah beberapa kali, tapi hanya sedikit sekali ibu tiri (dan keluarganya) yang bisa menerima tiga anak terlunta-lunta ini.

Saat eyang Seno menikahi entah siapa (eyang Sri nggak inget katanya :))), isteri barunya tidak menginginkan tiga anak bawaannya tinggal serumah. Eyang Seno pun mengambil keputusan dramatis: menuruti isteri barunya. Tiga bersaudara ini pun dititipkan di rumah keluarga jauh. Alih-alih diurus, mereka disuruh  bekerja bagai budak. Mereka harus memasak, menyapu, membabat rumput, memberi makan sapi, kambing dan ayam, membersihkan kotoran kuda andong, menimba sumur, memanen hasil kebun, telur ayam, dll, dsb. Bayarannya? Nasi bulgur dan ikan asin kering.

Eyang Sri tentu saja tidak tahan hidup seperti itu. Mungkin biasa diladeni, walau tidak dididik menjadi anak manja. Kalau mentalnya jatuh, kakak-kakaknya - eyang Tong dan eyang Ji - akan menghiburnya: digendong, ditembang, diajak nyolong jambu dan mangga. Tapi hiburan demi hiburan ini ternyata tidak mempan untuk hati si gadis kecil.

Hingga pada suatu malam, saat mereka bertiga berusaha tidur di tengah kerumunan kutu busuk di sebelah kandang sapi, eyang Sri merengek: "Mas.... aku mau ke rumah ibu...."

Eyang Tong dan eyang Ji sudah biasa mendengar adiknya merengek, tapi kali ini mereka tahu kalau itu adalah rengekan yang tidak main-main lagi. Mereka tidak jadi tidur. Ayam jantan berkokok tengah malam. "Wis, wis... ojo nangis, Sri... Gimana mau ke rumah ibu. Rumah ibu jauh..."

Sri kecil tidak mengenal konsep jauh. Jiwa kanak rindu puting susu ibunya meronta malam itu, tidak menerima segala alasan dan hiburan kakak-kakaknya. Eyang Tong yang banyak akal pun bangkit dari tumpukan jerami alas tidur mereka.

"Yuk melu aku. Kita ke rumah ibu sekarang!"

Tangis Sri langsung berubah jadi decak kagum ke kakak sulungnya itu. Eyang Sri dan eyang Ji ikut bangkit dari jerami. Pelan-pelan mereka mengikuti langkah eyang Tong keluar dari gubuk reyot sebelah kandang sapi itu.

Meraba-raba dalam gelap, kakak beradik itu jalan berurutan sambil memegang baju masing-masing dengan eyang Tong memimpin di depan. "Awas, Sri jangan ketinggalan!"

Setelah dua puluh menit berjalan dalam gelap, eyang Tong menghentikan langkah. Dia melepaskan gandengannya ke eyang Ji, lalu berjalan mengendap ke balik ilalang. Di balik ilalang itu ada cahaya temaram lampu minyak teplok yang berasal dari sebuah stasiun kereta kecil. Seorang coolie tampak tidur mendengkur di peron kayu. Di sebelahnya ada dua keranjang besar berisi beberapa tandan pisang kepok dan pepaya. Sepertinya dia bukan coolie, tapi tukang penjaja buah yang kemalaman di jalan.

Eyang Tong memeriksa sekitar. Stasiun sudah gelap. Mungkin petugasnya sudah pulang atau tidur di dalam ruangan. Eyang Tong memicingkan mata, berusaha melihat ke kegelapan. Jaga-jaga jangan sampai ada KNIL di stasiun ini.

Aman. Eyang Tong melangkah hati-hati ke keranjang penuh pisang kepok dan pepaya itu. Dengan hati-hati, diambilnya setandan pisang. Tak lama dia pun melesat kembali ke balik ilalang tempat dua adiknya menunggu.

"Mas! Kok kowe nyolong tho?!" pekik eyang Sri tertahan.
"Lhooo... ini bekal buat di jalan... Kalau kamu lapar gimana? Memangnya kita punya uang? Wis tho dipangan wae!" eyang Tong membela diri. Adik-adiknya pun berpikir dan mengangguk. Rumah ibu jauh, kita musti makan.
"Terus piye carane ke rumah ibu, Mas?" tanya eyang Ji.
"Yo mlaku..." jawab eyang Tong.
"Yo mlaku nengndi?" tanya eyang Ji lagi.
"Ya ikutin aja rel itu. Itu pasti ujungnya ke rumah ibu. Rumah ibu di Semarang kan dekat stasiun!"

Harapan muncul seperti matahari yang terbit kepagian di hati eyang Sri kecil. Dia masih ingat rumah ibunya saat diajak berkunjung di hari raya sebelum orangtuanya berpisah. Halamannya yang besar, ruangan-ruangannya yang megah dihiasi kursi-kursi berukir, makanan yang berlimpah dan bukan nasi bulgur. Dan stroop! Sri sungguh kangen minum stroop manis bikinan ibu! Sri memejamkan mata. Wajah ibunya langsung tersorot pada layar imaji di kepalanya, seperti film londo yang sering diputar meneer-meneer.

"Laahh... kok malah ngantuk? Ini pegang pisangnya, Ji. Biar aku gendong Sri. Ayok kita jalan, nanti keburu terang. Banyak KNIL. Ati-ati jangan kesandung rel."

Tiga tahun lalu, eyang Tong tetiba menelepon eyang Sri dari Bali, dari rumah peninggalan ayah mereka. Nada suaranya sungguh girang, dia berkata,"Dik, aku baru menemukan catatan bapak. Ternyata kamu lahir tahun 1932, bukan 1935! Kita sudah tua ya, Dik..." 

Eyang Sri menjawab."Iya Mas, wis tuo... Mas sing sehat yooo... Besok ta' kirimi jamu buat encoknya.."

Eyang Tong terkekeh. "Encok kebanyakan gendong kamu, dik!"

Setahun kemudian eyang Tong meninggal dunia. Kata eyang Sri, sebelum meninggal dia sempat menelepon lagi hanya untuk memberi tahu kalau jamu racikan adiknya luar biasa enak dan encoknya tidak pernah kambuh lagi. :)